Tuesday, April 07, 2020
Home > Featured > Dari Deventer Hingga Eifel dan Benteng Napoleon Catatan Elly SP

Dari Deventer Hingga Eifel dan Benteng Napoleon Catatan Elly SP

Elly SP di Paris. (esp)

Tidak begitu sulit, kendati butuh waktu panjang mengurus dokumen perjalanan, guna melancong mengisi waktu liburan ke Eropa. Persiapan pertama tentu paspor, guna pembuatan visa, dan ketika membuat visa harus mengisi formulir kunjungan “Schengen Visa Application” serta ada undangan dari warganegara tujuan.

Teman saya, Jean Yani Panman, keturunan Belanda dari ayahnya Yan Panman, merupakan sahabat yang memiliki kerabat di Belanda, yaitu Irene dan Minan Behr yang mengundang kami untuk berkunjung, setelah surat dan persaratan cukup dan paling utama, adanya pemberitahuan bahwa visa disetujui.

Nah, beres sudah. Kami berangkat dari Jakarta, Senin 15 Agustus 2016 menuju  bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.

Setelah mengudara dari jakarta selama 15 jam, kami sampai di Schiphol, Amterdam, Selasa 16 Agustus 2016 pukul enam pagi.

Tujuan utama kami adalah Deventer, semacam desa, yang ditempuh dua jam perjalanan darat dari Schiphool Amsterdam. Ketika menunggu bagasi, di luar kaca terlihat lambaian tangan keluarga Irene dan Minan Behr, menyambut kami dengan hangat, bersahabat, ramah, penuh persaudaraan dan baik hati.

Keluarga Minan Behr adalah keturunan Indonesia, kelahiran Cikarang, Jawa Barat, dan Irene asal Tual, Maluku Tenggara. Pernikahan mereka dikaruniai tiga anak perempuan (Shirley, Dhebora dan Melyssa).

Dalam perjalanan lancar dan tidak macet dari Schiphol menuju Deventer menumpang mobil, kami menyaksikan pemandangan sangat indah, bersih, tampak padang rumput menghijau dan luas dan ada sapi, kuda, domba yang sedang merumput. Sesekali terlihat rumah besar tetapi dengan jarak yang agak jauh dari satu rumah dan rumah lainnya.

Kami tiba di desa Deventer. Perumahan rapih dan teratur, desa kecil yang tertata baik sekali, tidak ada gedung tinggi. Ada juga satu dua gedung besar sehingga kelihatan megah.

Setelah istirahat satu hari, keesokan harinya kami pergi ke kota. Di salah satu jalan, ada pertokoan dan orang berjualan pakaian, sepatu, minyak wangi dan lainnya. Saya membeli jaket kulit yang dikombinasi kain berbahan kaos, juga kardigan yang di kombinasi rajut. Wuih, kelihatan cantik dan feminin. Setelah berbelanja beberapa pakaian kami kembali lagi ke desa asri Deventer.

Dari Belanda ke Perancis

Kami berangkat dari  Apeldoorn naik bis menuju Paris, Perancis, pada pukul 11.00 malam.  Di perjalanan dengan bus, naik penumpang dari Indonesia yang akan mengikuti Tour Eifel Tower di Arnhem. Salah seorang mengenalkan diri bernama Maranatha, biasa dipanggil Tata. Tata sangat ramah dan kami sepakat nanti akan bersama-sama.

Perjalanan bis kami menuju Belgia dan di Belgia akan berganti bis menuju Paris. Di Belgia tambah lagi penumpang, lagi-lagi orang Indonesia, Rossa. Ia bersama ayah dan ibunya. Rossa mengaku tinggal di Serdang, Kebon Kosong,Kemayoran. Penumpang bukan saja orang dari Belanda tetapi juga ada dari Belgia dan kami berganti bis yang lebih besar dan bertingkat.

Sampai di Belgia pukul enam pagi. Sambil beristirahat, penumpang dipersilahkan untuk santap sarapan pagi, sambil bersih-bersih menccuci muka, gosok gigi dan ke toilet. Setelah beristirahat beberapa lama, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Paris. Walau hanya sebentar, saya sempat menyaksikan Belgia yang bersih, nyaman dan indah. Wah, terdengar pula cicit burung, begitu indah dan asri.

Pada pukul 8.00 pagi kami sampai di perbatasan jalan tol menuju kota Parris. Jalannya agak macet setelah keluar tol yang pertama. Kami melewati gelanggang olah raga, ternyata Stadion Stade de France,   yang katanya beberapa waktu lalu baru saja mendapat ancaman bom dari kelompok tertentu.

Elly SP di Prancis. (esp)
Elly SP di Prancis. (esp)

Pada pukul 9.00 pagi kami sampai di parkiran menara Eifel.  Sebelum turun, ada pengumuman dari awak bus bahwa Tur Menara Eifel diijinkan hingga malam.

“Pada pukul 11.00 malam kami akan menjemput kalian. Tetapi bila pukul 11.15 malam nanti kami jemput, ternyata ada salah satu yang ketinggalan, silahkan kembali naik mobil lain. Selamat bersenang-senang…….,” kata awak bus.

Pertama kali kami antri karcis untuk membeli tiket menuju menara Eifel, kami bayar karcis 30 Euro untuk berdua.

Kami naik ke menara Eifel sampai di menara paling atas dan dari atas menara bisa menyaksikan pemandangan kota Paris yang indah. Di kawasan menara itu ada juga penjual cindera mata tentang Eifel dan juga kafe tempat ngopi, dan beberapa tempat lain.

Setelah puas di menara Eifel, kami turun dan berfoto-foto. Sasaran kami, melanjutkan perjalanan ke Musium Lukisan Monalisa “Musse au Louvre”, kemudian ke Jembatan Gembok Cinta “Khatedral  Notre Dame de Paris”,  Pont des Arts”, gereja cantik di atas bukit Monmarte “Sacre Coer”  dan terakhir ke Benteng Napoleon Bonaparte “ Arc de Triomhe” .

Semua perjalanan ke berbagai tempat itu kami tempuh dengan turun naik Kereta  Metro.

Dari menara Eifel menuju Metro kami berjalan menyeberangi jembatan kanal (sungai) untuk wisata kapal kecil.  Setelah melewati patung kuda, kami baru tiba di tempat penjual tiket Metro, setelah sedikit berolah raga dengan naik turun trap tangga yang cukup tinggi.

Kami beli tiket kereta Metro seharga 16 Euro dan berlaku untuk satu hari, bisa turun naik kereta sepuasnya.

Kami juga naik kereta Metro menuju ke Musium Lukisan Monalisa “Musse au Louvre”,  bekas istana Kerajaan Perancis yang menjadi museum yang paling terkenal di Paris dan di situ ada piramid terbalik (Piramida Louvre). Piramida itu terbuat dari kaca yang indah, merupakan ikon sebagai tempat favorit para pengunjung untuk berfoto.

Setelah ke Musium Louvre, kami berjalan lagi menuju Metro untuk berkunjung ke Jembatan Gembok Cinta, “Khatedral  Notre Dame de Paris”,  Pont des Arts. Setelah sampai di Khatedral, kami berjalan menuju Jembatan Gembok Cinta, tetapi ternyata sudah tidak ada lagi, karena jembatan sudah bersih dari gembok-gembok. Kami hanya berfoto di sekitar Khatedral, gedung yang antik dan megah.

Kami melanjutkan perjalanan selanjutnya ke bukit Monmarte “Sacre Coer”, gereja cantik di atas bukit, dapat melihat pemandangan indah Kota Paris. Sejarah gereja cantik diatas bukit Monmarte menyebutkan, pada jaman dahulu merupakan tempat pengikut para Sainte-Denis yang berkorban, merupakan Uskup Paris pertama pada abad ketiga.

Kami lanjut ke Benteng Napoleon Bonaparte “ Arc de Triomhe” untuk berfoto-foto, kemudian cepat kembali ke Eifel, karena untuk kembali  makan malam sambil menunggu bus kembali ke Apeldoorn.

Perjalanan yang melelahkan, tapi menyenangkan, amat berkesan dan entah kapan dapat berkunjung lagi ke desa dan kota di Eropa itu.  (Elly SP bekerja di Sekretariat PWI Pusat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru