Monday, October 21, 2019
Home > Cerita > Danau Kembar di Tepi Pantai, Andalan Tujuan Wisata Kaur, Bengkulu Selatan

Danau Kembar di Tepi Pantai, Andalan Tujuan Wisata Kaur, Bengkulu Selatan

Danau Kembar, di Kaur, Bengkulu Selatan. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.COM (Wisata) – Bintuhan, ibukota Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, bukan saja menyajikan wisata pantai yang menarik, tetapi juga punya seabrek obyek lainya, di antaranya Danau Kembar sebagai salah satu andalan dalam menggaet pelancong.

Danau ini terletak di wilayah Desa Wayhawang dan Desa Sukamenanti, Kecamatan Maje, Bintuhan. Lokasinya masih sangat alami. Pihak pemda setempat sedang berupaya membangun sarana dan prasarana memadai, agar pelancong dengan mudah menjangkaunya dan nyaman.

Danau Kembar jaraknya 100 meter dari pinggir jalan dan terletak di tepi pantai perairan Bintuhan atau Samudera Hindia, sehingga sangat mudah dijangkau berkendaraan atau berjalan kaki.

Di balik keunikan danau tersebut, terselip cerita rakyat asal-muasal terbentuknya Danau Kembar itu. Danau ini terbetuk dari aliran Sungai Nasal yang saat ini berada di Kecamatan Nasal.

Sungai Nasal diketahui sebagai sungai yang ganas atau disebut warga setempat dengan sungai lelaki. Pada zaman dulu beberapa sungai kecil yang ada di sekitar Nasal dan Maje, semuanya ingin digabungkan atau ingin dikawini Sungai Nasal. Sungai Nasal ingin menyatukan diri dengan Sungai Numan yang juga berada di Desa Sukamenanti, Kecamatan Maje yang disebut sungai wanita.

Lantaran ingin menyatukan diri dengan Sungai Numan itu, air Nasal yang besar saat itu mengalir menuju ke Sungai Numan. Namun entah mengapa hal tersebut tidak sampai, pada hal jarak antara Danau Kembar dan Sungai Numan hanya beberapa ratus meter.

Penyatuan Sungai Nasal dan Sungai Numan tak kesampaian yang akhirnya terbentuklah Danau Kembar yang sekarang menjadi obyek wisata di Kecamatan Maje.

Keistimewaan Danau Kembar, airnya tak pernah kering meski kemarau panjang. Dulunya Danau Kembar diberi nama Paluh Besar dan Paluh Kecil. Karena danau tersebut ada yang besar dan yang kecil yang jaraknya sangat dekat.

Danau Kembar hingga kini masih dimanfaatkan warga untuk mencari ikan. Hanya saja obyek wisata menarik ini belum dikelola secara maksimal.

JAHE GAJAH
Kaur nerupakan sebuah kabupaten di Bengkulu, ibukotanya Bintuhan. Wilayah Kabupaten Kaur di sebelah utara, berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung.

Luas wilayah Kabupaten Kaur 5.363,08 km2 yang terbagi menjadi tujuh kecamatan. Di sektor pertanian, Kabupaten Kaur banyak memproduksi tanaman pangan padi dan palawija. Khusus palawija, Kaur memiliki luas tanam dan luas panen tanaman kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar yang cukup luas.

Di sektor perkebunan, kabupaten ini memiliki iklim dan tanah yang cukup cocok ditanami tanaman perkebunan. Komoditas yang dihasilkan kabupaten ini antara lain kelapa sawit dan karet.

Kaur juga memiliki komoditas perkebunan unggulan yang cukup khas, yaitu Jahe Gajah yang areal penanaman terluas ada di Kecamatan Nasal. Di antara kabupaten tetangga, yaitu Bengkulu Selatan dan Seluma, tanaman ini hanya ditemukan di Kaur.

Untuk pengembangan potensi ini, pemkab mendirikan sebuah pabrik minuman jahe instan yang mulai beroperasi sejak bulan Januari tahun 2004. Hal itu diupayakan sebagai bagian dari program pembudidayaan jahe gajah besar-besaran meski pemasarannya masih lokal.

Pabrik minuman jahe instan ini dibangun atas kerja sama pemkab dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu.

UDANG LOBSTER
Pada sektor perikanan, secara geografis, Kaur berada di pesisir Samudera Hindia, yang berarti cukup besar kekayaan laut yang bisa digali. Garis pantai yang dimiliki sepanjang lebih kurang 100 kilometer.

Produk utama perikanan laut dari Kaur adalah ikan tuna dan udang jenis lobster. Mayoritas nelayan di Kaur adalah pelaut tradisional yang menangkap ikan hanya dengan perahu layar atau kapal tidak bermotor.

Jumlah kapal jenis ini 294 unit, sementara kapal dengan motor tempel sejumlah 243 unit. Jumlah kapal bermotor hanya tujuh unit. Produksi perikanan laut tahun itu sekitar 1.230 ton, dengan jumlah tangkapan terbesar dari Kecamatan Nasal.

Kabupaten ini sedang merencanakan peningkatan mutu kualitas wilayahnya. Pemkab Kaur berencana membuat saluran irigasi yang juga terletak di Kecamatan Kaur Utara, yang nantinya mampu mengairi lahan sawah hingga 8.000 hektar.

Selain itu, pembuatan jalan tembus sepanjang 150 kilometer yang menghubungkan wilayah Kaur Utara hingga perbatasan Provinsi Lampung, juga sedang diupayakan.

BUKIT BARISAN
Penduduk Kabupaten Kaur, terbentuk dari campuran dari sejumlah suku yang berasal dari dataran tinggi Bukit Barisan, yaitu orang Rejang dan orang Pasemah (Palembang), orang Lampung, dan orang Minangkabau.

Minangkabau yang masuk melalui Indrapura sampai ke daerah Kaur (Bengkulu). Di sini mereka bercampur dengan kelompok lain yang berasal dari Palembang, sehingga membentuk suatu identitas baru, yaitu orang Kaur.

Misalnya, di Marga Muara Nasal (Kaur) sebagian penduduknya berasal dari Minangkabau. Menurut cerita rakyat, daerah pesisir pantai ini mulanya dihuni Suku Buai Harung (Wai Harung) dari landschap Haji (Karesidenan Palembang).

Sejak sekitar abad ke-18, mereka mendirikan kolonisasi pertama di muara Sungai Sambat yang selanjutnya berkembang sampai ke Muara Nasal. Akan tetapi, pada saat daerah itu diambilalih oleh orang-orang dari Pagaruyung yang masuk melalui Indrapura, sebagian dari mereka terdesak ke Lampung.

Mereka bercampur dengan penduduk setempat sehingga dikenal sebagai orang Abung. Sebagian lain suku Buai Harung bercampur dengan orang Minangkabau dan menjadi orang Kaur.

SINDANG DANAU
Penduduk yang bermukim di Kaur juga merupakan percampuran antara orang dari sekitar Bengkulu dengan orang Pasemah. Misalnya, di dusun Muara Kinal (Marga Semidang).

Di Kaur terdapat juga orang-orang dari daerah Semendo Darat dari Dataran Tinggi Palembang (Marga Sindang Danau terdiri dari Muara Sindang, Pematang Danau dan Ulu Danau), Sungai Aro, serta Muara Sabung).

Mereka bertempat tinggal di Muara Nasal, sekitar 15 km ke arah mudik dari Sungai Nasal dan bernama Marga Ulu Nasal. Penduduk Marga Ulu Nasal terbentuk dari campuran orang-orang dari daerah Semendo Darat dan Mekakau, Sumatera Selatan. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru