Wednesday, November 13, 2019
Home > Cerita > CIN(T)A Cerpen Kartika Permata Putri Bangun

CIN(T)A Cerpen Kartika Permata Putri Bangun

Ilustrasi - Cinta, cerita pendek. (pic.klipingsastra.com)

Karena tak seharusnya, perbedaan menjadi jurang. Bukankah kita diciptakan, untuk dapat saling melengkapi, mengapa ini yang terjadi?”,  larik lagu dari Tere dan Valent yang berjudul Mengapa Ini Yang Terjadi itu, kini terputar pada radio mobil Javier.

Mendengar lagu tersebut, aku hanya bisa tersenyum simpul sambil melihat wajahnya yang sedang berkonsentrasi menyetir.

Minggu lalu, kami berencana untuk menonton film dan makan sub sandwich di daerah Karawaci. Setelah selesai dari tempat tersebut, aku berencana untuk mengambil laptop di kantor karena selama seminggu ke depan harus mengikuti training yang merupakan rangkaian acara kompetisi.

Sesampainya di kantor, aku langsung membuka kunci pintu dan berlari ke lantai atas untuk mengambil laptop. Javier pun menyusul di belakangku. Aku yang sedang membereskan laptop serta cooling fan, mendadak dikagetkan dengan pelukan Javier dari belakang.

“Can we stay here for a while?” tanya Javier sambil memelukku dari belakang dan menempelkan dagunya di atas kepalaku.

“Sure. Ada apa Jav?” ucapku sambil melepaskan pelukannya. Ia kemudian menarik kursi dan meletakkannya di sebelah kursiku. Aku pun menarik kursiku, dan duduk mendekat kepadanya. Terlihat ada kegusaran dalam wajahnya, dan aku pun tahu mengapa. Pikiran kami pun melayang, pada saat yang sama.

* * *
Alexander Javier. Sahabatku dari semester lima perkuliahan. Berkenalan karena kami sama-sama menjadi panitia orientasi mahasiswa pada bagian dokumentasi. Fotografi adalah hal yang kalau kubilang, mempertemukan kami.

Mempunyai pengalaman yang sama, diputuskan ketika harus melakukan magang di benua Eropa sana dan tidak pernah menemukan orang-orang yang tepat, serta mimpi untuk menciptakan sesuatu agar bisa menginspirasi seseorang, membuat kami menjadi teman mengobrol yang begitu terkoneksi.

Menyimpan perasaan kepadanya bukanlah rencanaku, apalagi di tahun ini. Mengingat, aku mempunyai tanggung jawab pekerjaan dan impian untuk menggapai mimpi untuk mengambil pendidikan lebih tinggi di negeri seberang. Namun, kesetiaannya menemani hari-hari sulitku –entah karena pekerjaan dan perasaanku yang terombang-ambing saat itu—dan candanya yang selalu membuatku tertawa mampu membelokkan mimpi tersebut. Kehadirannya, membuat malam-malam sepiku, menjadi sedikit lebih baik.

Namun aku tahu jika aku menyimpan perasaan kepadanya, aku akan merasakan hal yang sama seperti tahun-tahun lalu. Jika perasaanku pun berbalas, maka jalan ini akan semakin berat. Tuhan, mengapa Kau menciptakan kami berbeda?

* * *
Mataku terus tertuju ke Javi yang hari ini entah mengapa begitu menarik perhatianku. Garis wajahnya yang tegas, dan tatapan matanya yang selalu bercahaya ketika sedang berbicara mengenai mimpinya atau ketika sedang berkonsentrasi saat menyetir, mampu membuat aku tersenyum sendiri bahkan ketika ia sedang tak berada di tempat.

Hari ini ia mengenakan kaos pas badan berwarna hitam, dipadukan dengan skinny jeans berwarna biru gelap dan sepatu olahraga berlogo centang tersebut. Tubuhnya yang menurutku proporsional dan wajahnya yang sangat peranakan Cina, mampu membuat jantungku berirama seperti dubstep music saat ini.

“Cha?” ucapnya sambil menepuk halus punggung tanganku. Aku melamun, membayangkan dirinya yang sedang berada di depanku.

“Eh, kenapa?” jawabku sambil meraih kesadaranku kembali. Aku langsung mengarahkan kursiku agar menghadap kepadanya.

“Lagi mikirin apa sih?” tanyanya sambil tersenyum dan menggodaku.

“Nggak ada Jav.” ucapku tersenyum simpul. Javi lalu berdiri dan berjalan ke arah kasur lipat yang masih tergeletak di lantai. Ia pun menyuruhku untuk ikut dengannya. Merebahkan tubuh kami yang sama-sama lelah.

“Can I hug you, Cha?” katanya sambil menghadapkan tubuhnya ke arahku. Aku yang sedang melihat langit-langit kantor, hanya tertawa kecil lalu mengangguk. Javi memelukku, lagi. Samar-samar, aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang berbau sabun tersebut.

Merasa tidak nyaman, aku menghadapkan tubuhku sehingga kini kami saling berhadapan. Jarak kami hanya sekitar sepuluh sentimeter, dan aku bisa merasakan hangatnya nafas Javier, yang kini mampu membuatku mengingat pernyataannya minggu lalu.

“The worst case is I fall in love with you, Cha,” ucap Javier ketika ia menginap di kantor dan mengajakku keluar untuk makan malam di tukang nasi goreng dekat kantor. Aku yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas. “Gue tau itu salah—please don’t be mad at me.” ucapnya ketika mendengar helaan nafasku.

“Jav, I’m not even mad. I am surprised to hear that but you know, we can’t right?” ucapku sambil mengunyah nasi goreng teri yang terletak di mejaku. Entah mengapa, rasanya jadi hambar dan akupun tak berselera makan. “Meskipun gue merasakan hal yang sama… Tapi gue takut Jav.” lanjutku sambil menelan makananku dan menghela nafas—lagi.

“Bukan cuma lo aja yang takut, gue juga.” Ucap Javier sambil menyesap es the manis dari tukang nasi goreng tersebut.

“Terus kita harus bagaimana, Javier?”

“Gue nggak tau, Rischa.” Ucapnya sambil menutup pembicaraan tersebut, meninggalkan tanda tanya pada angin malam tersebut.

“Cha, lo mau jalanin ini sama gue?” ucap Javier mengagetkanku, menarikku kembali pada masa sekarang. “It feels like I want you and I know we have no future but it seems I can’t find someone else better than you. ” Ucapnya sambil menempelkan bibirnya di dahiku. Akupun tak menolak.

“Javier…” ucapku lirih sambil menutupkan kedua mataku. Aku takut, ada air yang nakal keluar dari mataku dan mengalir menuruni pipiku.

“Aninditha Rischa Devika…” ucapnya sambil menyingkirkan rambut-rambut nakal yang menutupi wajahku. “Would you?”

Air mata terlanjur keluar menuruni wajahku, dan Javier kian mendekat sehingga jarak kami hanya sebatas dua jari..
“Kalaupun iya, bagaimana jalaninnya?” ucapku mencoba menjauhkan diriku darinya. Namun ia tetap dekat.
“I want you to stay, and hang in there while I’m putting my courage together to tell everyone that I want you to be mine forever. Just please, don’t leave..” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku dan perlahan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibirku, membuat hatiku berteriak-teriak dan kepalaku melayang melupakan permasalahan yang sebenarnya berada di depan kami.

Tuhan, aku jatuh cinta sama Javier. Nggak apa-apa kan?

000

 

Jakarta, April 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru