Friday, October 18, 2019
Home > Berita > China Hentikan Penerbangan Gunakan Pesawat Seperti Ethiopian Airlines yang Jatuh

China Hentikan Penerbangan Gunakan Pesawat Seperti Ethiopian Airlines yang Jatuh

Boeing 737 Max 8. (Foto: Getty/BBC News)

Boeing 737 Max 8. (Foto: Getty/BBC News)

Diantara korban terdapat salah satu  warga negara Indonesia (WNI), yakni seorang perempuan yang tinggal di Roma, Italia dan bekerja untuk World Food Program (WFP) PBB.

Mimbar-Rakyat.com (Beijing) – Jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines beberapa menit setelah lepas landas pada hari Minggu (10/3) dan menewaskan semua penumpang 157 orang, membuat  regulator penerbangan China memerintahkan seluruh maskapai penerbangan lokal untuk menghentikan penerbangan Boeing 737 Max 8.

Kecelakaan mematikan Ethiopian Airlines yang menggunakan model yang sama, membuat regulator penerbangan China bahwa seluruh maskapai di negara itu harus menghentikan operasi komersial semua pesawat Boeing 737 Max 8 sebelum pukul 18:00 waktu setempat (10:00 GMT), Senin (11/3) ini. Demikian dilaporkan BBC News.

Penerbangan Ethiopian Airlines jatuh beberapa menit setelah lepas landas pada hari Minggu, menewaskan semua 157 orang di dalamnya. Itu adalah kecelakaan kedua yang melibatkan 737 Max 8 dalam lima bulan terakhir.

Diantara korban terdapat salah satu  warga negara Indonesia (WNI), yakni seorang perempuan yang tinggal di Roma, Italia dan bekerja untuk World Food Program (WFP) PBB.

Kantor berita Reuters melaporkan, ‘CEO’ Ethiopian Airlines mengungkapkan wartawan di antara 157 korban tewas merupakan warga dari sedikitnya 30 negara, termasuk Indonesia. Korban berasal dari Kenya 32 orang, Kanada 18 orang, Ethiopia 9 orang, China 8 orang, Italia 8 orang, Amerika Serikat 8 orang, Prancis 7 orang, Inggris 7 orang, Mesir 6 orang, Jerman 5 orang, India 4 orang, Slovakia 4 orang; dan Austria, Rusia, Swedia masing-masing 3 orang; dan warga Spanyol, Israel, Maroko, Polandia masing-masing 2 orang.

Masing-masing satu orang dari Indonesia, Belgia, Djibouti, Irlandia, Mozambik, Norwegia, Arab Saudi, Rwanda, Sudan, Somalia, Serbia, Togo, Uganda, Yemeni, Nepal, Nigeria.

Sejumlah ahli memperingatkan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang menyebabkan bencana Ethiopian Airlines, setelah model yang sama jatuh dalam penerbangan yang dioperasikan oleh Lion Air pada bulan Oktober. Pesawat kehilangan ketinggian segera setelah lepas landas dan menewaskan 189 orang di dalamnya.

Namun Administrasi Penerbangan Sipil China menyatakan;  “Mengingat bahwa dua kecelakaan keduanya melibatkan pesawat Boeing 737 Max 8 yang baru dikirim dan terjadi selama fase tinggal landas, mereka memiliki beberapa tingkat kesamaan.”

Beberapa maskapai China akan terpengaruh oleh penangguhan tersebut termasuk Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines. Lebih dari 90 model Boeing 787 Max 8 digunakan di daratan Cina. Pesawat ini relatif baru dan digunakan secara komersial sejak 2017.

Boeing mengatakan “sangat sedih” dengan kecelakaan itu dan mengirim tim untuk memberikan bantuan teknis dengan penyelidikan. Penyelidikan akan dipimpin oleh otoritas Ethiopia berkoordinasi dengan tim ahli dari Boeing dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS.

Regulator penerbangan China mengatakan akan memberi tahu maskapai kapan mereka bisa melanjutkan menerbangkan jet Boeing. Cina bukan satu-satunya yang bereaksi terhadap bencana dengan menunda operasi.

Ethiopian Airlines, mengatakan akan terus menerbangkan armadanya dari 737 MAX 8  karena penyebab kecelakaan belum ditentukan.

Beberapa maskapai Amerika Utara mengoperasikan pesawat yang sama dan mengatakan mereka sedang memantau penyelidikan. Southwest Airlines terbang 31, sedangkan American Airlines dan Air Canada masing-masing memiliki 24 di armada mereka.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru