Thursday, July 19, 2018
Home > Cerita > Cermin Akhlak: Membuang Benih Jahat

Cermin Akhlak: Membuang Benih Jahat

Mesjid di Turki. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak akan pernah lepas dari penyakit lalai atau alpa. Karena sudah dimulai dari Nabi Adam dan Siti Hawa yang memakan buah khuldi.

Karena itu, ada ungkapan, pada diri manusia tempatnya salah dan alpa. Akibat dari kealpaan itu, manusia bisa terjebak melakukan kesalahan, pelanggaran, sampai kepada kejahatan. Sebab, ada setan yang selalu menggoda dan membisiki. Tingkat pelanggaran dalam Islam dikenal dengan sebutan maksiat.

Setiap manusia yang alpa bisa setiap saat terperangkap pada jurang kemaksiatan. Hanya Nabi dan Rasul saja yang terpelihara dari sifat tercela itu, karena utusan Allah sudah digaransi dengan sifat maksum (terpelihara) dari perbuatan jahat.

Manusia dalam keadaan bagaimanapun selalu diliputi kecenderungan pada aturan (hukum). Kita ingin menegakkan hukum meski terkadang tuntutan hawa nafsu lebih kuat menolaknya. Karena perasaan ingin tegaknya hukum itulah, manusia berupaya mewujudkan keamanan, ketenteraman, dan ketertiban untuk diri, keluarga, serta lingkungan.

Sehingga terwujud aturan main kehidupan yang berbeda dengan binatang, di mana yang kuat sesuka hatinya menguasai dan memakan yang lemah.

Kehadiran Nabi dan Rasul dilengkapi kitab suci-Nya untuk menjelaskan, manusia bukanlah hewan yang saling memangsa. Menjelaskan mana yang boleh dan mana yang tidak sesuai hukum Allah.

Kepada mereka yang melanggar, Allah SWT memberi sanksi hukum berupa dosa. Sedang kepada mereka yang berbuat kebaikan, Allah memberi ganjaran pahala.

Dampak dosa dan pahala sangat nyata dalam kehidupan. Karena sangat berkaitan dengan kehidupan kita, senang-susah, bahagia atau menderita.

Firman Allah, “Barangsiapa mengerjakan perbuatan baik meski sebesar biji zarah (sawi), niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan perbuatan jahat meskipun seberat zarah, niscaya dia akan melihatnya.” (QS. Al-Zal-zalah: 7-8)

Sementara dalam hadist Rasulullah disebutkan, raut wajah pendosa akan diselimuti kabut hitam, sehingga pandangannya tidak bercahaya. Tak ada kesejukan saat orang lain memandangnya. Karena itu perlu bertobat atau insyaf. Begitu juga sebaliknya, orang yang pahalanya banyak, akan selalu ceria dengan wajah berseri-seri.

Hidupnya selalu optimis dalam menghadapi berbagai cobaan. Karena itu perlu segera dibuang benih jahat yang ada dalam diri kita. Selagi nafas masih ada, bagi manusia alpa, pintu ampunan dari Allah SWT tetap terbuka seluas langit dan bumi.

Firman Allah, “Bersegeralah memohon ampunan dari Tuhanmu dan mohonlah surga yang luasnya seluas langit dan bumi disediakan untuk orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133)
Firman Allah yang lain, “Kepunyaan Allah apa saja yang ada di langit dan di bumi. Diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, dan disiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali Imran: 129)

Bertobat atau dengan bahasa sehari-hari insyaf, hendaknya tidak dilakukan dengan main-main atau setengah-setengah. Karena sama halnya dengan membiarkan benih penyakit jahat tumbuh kembali dalam diri kita.

Bertobat mesti menanamkan niat yang kuat untuk meninggalkan pekerjaan keliru sejauh-jauhnya. Tutup rapat-rapat lembaran hitam dan jangan coba membukanya kembali.

Taubatan Nashuha (sebenar-benarnya tobat), bagaikan seseorang membuang kotoran yang keluar dari perutnya sendiri. Meski dia mengetahui persis kotoran itu berasal dari makanan yang enak tetapi setelah berbentuk kotoran dia tidak akan mau melihatnya lagi.

Tobat juga harus benar-benar bersih, ingin kembali ke jalan lurus yang diridhai Allah SWT. Tidak terpengaruh unsur lingkungan maupun fisik. Agar kita selamat, Rasulullah sudah menuntun kita agar selalu mengoreksi diri dengan beristigfar (minta ampun) setiap saat.

Tobat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Memang banyak dari kita yang bertobat setelah merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan, misalnya musibah kecelakaan, dipenjara, dan kehilangan orang yang sangat dicintai, bahkan kematian.

Mestinya, sebelum semua itu terjadi, kita sudah tobat duluan. Jadi bertobatlah atau insyaf sebelum terlambat. Semoga! (H.Johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru