Friday, November 22, 2019
Home > Cerita > CERITA SUNGAI, Cerpen Hendry Ch Bangun

CERITA SUNGAI, Cerpen Hendry Ch Bangun

BANYAK potongan ingatan ketika kau melintas di jembatan tua itu. Di bawahnya mengalir sungai dengan banyak batu. Batu-batu besar dan di antaranya mengalir air jernih yang tak lagi banyak, barangkali hanya cukup untuk mandi atau mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Tebingnya masih berhias pohon besar dan perdu, juga bambu-bambu, walau di sana-sini ada yang tergerus memunculkan tanah merah.

Semalam ada yang bercerita, dulu sungai ini masih dipakai untuk berlayar dari gunung ke kota, walau dengan perahu sedang, bukan kapal pengangkut penumpang seperti di Musi atau Mahakam, tapi dimanfaatkan membawa h asil bumi. Entah karet, teh, hasil panen, untuk dijual lalu pulangnya membawa gula, garam, tepung, minyak goreng.

“Ayah saya masih berkali-kali naik kapal ke kota. Kalau saya, sejak kecil sudah tidak melihatnya lagi,” kata lelaki berusia 40 tahun yang membawa kami dari bandara ke hotel melati tempat acara akan dilangsungkan besok. Katanya, perjalanan dengan kapal itu bisa memakan waktu sehari semalam, jauh lebih lambat dibanding mobil yang hanya sekitar 6 jam.

Tapi karena murah banyak orang yang memilih kapal. Tetapi sekarang itu tinggal kenangan saja. Air yang surut, lumpur yang mengering membentuk daratan lalu dimanfaatkan untuk tempat bercocok tanam, membuat sungai itu tidak lagi bisa menjadi sarana transportasi.

Matanya memandang ke bawah jembatan yang dilintasi bus antarprovinsi ALS, PMTOH, Medan Jaya, dengan latar belakang bebukitan. Sungai dengan rumah-rumah besar di tepinya, memberi kenangan, cerita tentang keluarga besar yang beranak cucu di sana.

Rumah tempat berkumpul di hari raya, ketika semua bersilaturahmi setelah setahun merantau, entah karena bersekolah atau bekeja di negeri orang. Ketika makanan kesukaan yang disajikan nenek, kue beraneka warna yang wangi, ruap kopi panas yang diseduh sehabis makan, membuatnya tersenyum. Ada wajah di sana, wajah anak-anak, lalu berangkat remaja, lalu berkeluarga, dan tiba-tiba menjadi tua dengan rambut berhias uban. Lalu ingatannya beralih ke kampungnya dulu.

Di kaki gunung, saat dia sendiri tinggal bersama neneknya. Gunung yang kini berulang-ulang meletus, menghancurkan tanaman hasil panen, merusak rumah-rumah di puluhan desa, membuat ratusan keluarga mengungsi bahkan dipindah sampai hari ini.

Bersama teman dia kerap bermain, sambil memetik apa saja, jeruk, markisa, yang terlihat di perjalanan. Dia suka duduk sambil memandang jembatan yang ada di kejauhan.

Jembatan itu menjadi penanda bahwa sebentar lagi orang akan tiba di kampungnya, sebuah desa yang ramai tiap hari Selasa. Ketika pedagang dari ibukota kabupaten, menggelar jualan mereka di los.

Di atas batu di antara deras air, dia suka menunggu neneknya yang seminggu sekali membawa panen ladang atau tetangganya ke kota. Waktu itu tentu saja tidak ada telpon, karena di rumah pun penerang hanya lampu semprong, dan bus dari ibukota kabupaten hanya datang dua kali dalam sehari ke kampunya.

Ketika mobil GM berwarna khas itu terlihat, dia akan segera berlari ke rumah. Biasanya dia akan tiba terlebih dahulu karena bus akan menurunkan banyak penumpang di pasar, termasuk neneknya. Pasti banyak makanan. Ah, nenek, semoga kau tenang di alam sana.

Lalu sungai lain ketika dia sudah tinggal di kota bersama ayah ibunya, di sebuah rumah besar walau berada di dalam gang. Sungai besar, kadang membawa ranting pohon dari gunung, tetapi menjadi tempat mandi dan cuci banyak keluarga.

Di seberang sana ada lapangan udara dan perumahan tentara, dengan tebing curam sehingga tidak bisa dijadikan jalan. Namun bersama teman-teman dia suka naik, lalu melompat ke sungai seperti atlet loncat indah.
Sehabis sekolah, yang tak jauh dari rumahnya dan dipisahkan kuburan, dia sering mandi bersama teman satu kelas.

Pulang, makan, menaruh tas, lalu ramai-ramai mandi. Kadang berjam-jam kalau tidak dihentikan ibunya yang memanggil pulang. Kadang sungai mengalirkan bangkai anjing atau binatang besar lain hingga mereka berenang ke tepi dari bau-batu besar tempat bercengkerama. Dia bahkan pernah terkejut dan berlari ketika mengira ada ular yang ternyata ranting pohon yang melengkung. Sampai pucat mukanya dan tak habis pikir mengapa dia bisa seterkejut itu.

Tak ada sungai yang ditemuinya lagi di Jakarta. Waktu sekolah dia kerap meliwati lintasan air yang disebut Kali Ciliwung di kawasan Pasar Baru, yang sebenarny kanal buatan. Saat itu masih banyak yang mencuci dan mandi di sana, perempuan berhandukkan kain batik dan anak-anak. Kadang bila di situ ada WC, dijadikan juga tempat buang air.

Termasuk dulu di kanal Gajah Mada-Hayam Wuruk, yang di zaman Belanda menjadi sarana transportadi dari Kota ke Udik. Kini airnya juga surut, atau bercampur sampah dan berwarna keruh. Tidak enak dilihat meski sungai di Paris, London, Seoul, menjadi tempat orang bersantai, menghirup udara segar, dan berperahu untuk jalan-jalan.

Dipeganginya besi pembatas jembatan, dan memandang rumah-rumah di kejauhan.

Untunglah aku datang ke kota ini. Menyempatkan diri berjalan pagi. Memandang bukit-bukit yang masih hijau. Sungainya masih menyejukkan mata. Menyegarkan hati. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru