Thursday, June 20, 2019
Home > Berita > Buka puasa di Masjid Westall serasa di kampung sendiri

Buka puasa di Masjid Westall serasa di kampung sendiri

Suasana buka puasa bersama di salah satu , bagian Masjid Westall, Sabtu malam. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Melbourne) – Namanya saja masjid komunitas muslim Indonesia, maka tidak mengherankan bila suasana dan perasaan tak ubahnya seperti di kampung sendiri saat mengikuti acara buka puasa bersama di Masjid Westall Melbourne, Sabtu petang.

Ratusan jamaah yang datang tidak saja merupakan muslim Indonesia, tetapi juga berdatangan dari beberapa negara timur tengah, di antaranya dari Arab, Pakistan, Mesir dan lainnya.

Mereka ikut mencicipi makanan Indonesia yang dihidangkan para ibu yang bermukim di negara yang lagi bercuaca dingin (autumn) itu, sehigga shalat dalam masjid pun harus mengenakan pakaian tebal berlapis dan mengenakan kaos kaki.

Kendati para jamaah berbicara didominasi bahasa Indonesia, namun banyak yang berbahasa Inggris, termasuk peceramah Kemal Faiq yang berbahasa Indonesia dan Inggris.

Ust. Kemal Faiq dari KJRI Melbourne berceramah menjelang shalat Tarawih. (arl)

Setelah usai berbuka bersama, para jamaah lelaki dan wanita, mengikuti shalat Magrib berjamaah, disusul shalat Isya dan Tarawih, dipimpin imam Wildan Sani Rasyid, mahasiswa di Universitas Monash – yang mengalunkan suara merdu dalam Tarawih 11 rakaat termasuk tiga shalat Witir.

Salah seorang takmir masjid, Awad Attamimi menyatakan, acara puasa bersama itu digelar pada Sabtu dan Minggu, sedangkan malam biasa berbuka biasa namun shalat Tarawih tetap ada, bahkan dilanjutkan dengan pengajian malam bagi jamaah yang masih bertahan,

Suasaa buka puasa bersama di Masjid Westall. (arl)

Ustad Dedy  Martoni, Spd. M.Si, mengisi pengajian tetap dalam minggu pertama Ramadan 1440 H di Masjid Westall, kemudian ia mengisi pengajian di masjid lain sedangkan posisinya digantikan ustad lain dari Indonesia. Mereka bergatian memberikan pengajian pada tiga masjid komunitas muslim  Indonesia di Melbourne,  masjid Westall dan Baitul Makmur serta masjid Surau Kita.

Ustad Kemal Faiq dalam ceramah singkatnya menjelang shalat Tarawih, menjelaskan tentang hakikat perbuatan semua manusia di dunia – yang akan menentukan balasannya yang setimpan di hari akhir.

“Perbaiki perahumu, karena perjalanan masih amat jauh,” katanya bertamsil,  kemudian menjelaskan perahu atau perbuatan manusia di dunia kelak menentukan apakah ia tiba dengan selamat ke tempat tujuannya, atau barangkali tenggelam di tengah laut.

Suasana buka puasa bersama di Masjid Westall. (arl)

“Kita juga sebenarnya hanyalah sebagai musyafir di dunia, artinya kita hidup hanya singkat dan dunia hanya merupakan persinggahan sementara, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata Kemal Faiq, salah satu staf di KJRI Melbourne.

“Perbuatan kita di dunia adalah tabungan masa depan. Ringankanlah beban, agar jalan terjalmu terasa semakin enteng.  Artinya, sebagai makhluk Allah SWT, selagi masih hidup di dunia, kita harus fokus ke akhirat dan iklas dalam beramal,” tuturnya.

“Bertepatan pada Ramadan ini, kita harus mampu memanfaatkannya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.  Kita berusaha berbuat yang terbaik di mata Allah SWT, walau tidak terlihat di mata manusia,” kata Kemal.  (ar. loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru