Tuesday, October 22, 2019
Home > Berita > BMKG Uji Coba Sistem Peringatan Dini Gempa

BMKG Uji Coba Sistem Peringatan Dini Gempa

Uji coba pembangunan sistem ini di-launching oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Duta Besar China dan dari Institute of Care Life of China, 15 Agustus 2019, dengan melakukan pemasangan 10 unit sensor EEWS.

 

Mimbar-rakyat.com (Jakarta) –  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan memasuki era baru dengan membangun Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi (Indonesia Earthquake Early Warning System-InaEEWS). Sistem ini akan memberikan informasi lebih dini sebelum gempa kuat melanda suatu kawasan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, seperti disampaikan Humas BMKG lewat siaran pers, menyatakan, sistem dimaksud tidak saja bermanfaat bagi masyarakat agar dapat bertindak lebih cepat menyelamatkan diri, tetapi juga dapat mengamankan objek vital berbasis respon instrumen.

Sistem transportasi cepat, MRT, penerbangan dan industri penting dapat dinon-aktifkan seketika (shut down), beberapa detik lebih awal sebelum gempa menibulkan guncangan dan kerusakan.

“Sistem ini tidak bertujuan untuk meramal kapan terjadi gempa besar, tetapi lebih kepada memberi peringatan kepada masyarakat bahwa akan terjadi gempa kuat dalam hitungan beberapa detik hingga beberapa puluh detik ke depan,” kata Dwikorita.

BMKG berpandangan, peringatan dini gempa meskipun dalam hitungan detik sebelum terjadi gempa, akan sangat berarti untuk menyelamatkan jiwa manusia dari kecelakaan yang fatal.

Wilayah Indonesia, berdasarkan data yang ada, merupakan bagian dari jalur gempa dunia yang terbentang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Alor, Banda, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua.

Sebagai wilayah yang terletak pada jalur gempa, kondisi fisiografi wilayah Indonesia sangat dipengaruhi aktivitas tumbukan 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.

Ketiga lempeng tektonik tersebut saling bertumbukan, mengakibatkan wilayah Indonesia memiliki lebih dari 16 segmen megathrust dan lebih dari 295 sesar aktif, sehingga menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu kawasan paling rawan gempa dan tsunami di dunia.

Deputi Geofisika, Dr. Muhamad Sadly, M.Eng menyatakan, BMKG mencatat dalam satu tahun rata-rata terjadi gempa sebanyak 5000 hingga 6000 kali, dengan berbagai magnitudo dan kedalaman.

Bahkan berdasarkan data BMKG terkini, tahun 2017 yang lalu telah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan di Indonesia, menjadi sebanyak 7.169 kali, dan pada tahun 2018 kejadian gempabumi meningkat lanjut menjadi sebanyak 11.920 kali. Dengan demikian sangat nyata telah terjadi peningkatan signifikan aktivitas gempabumi di Indonesia.

“Mengingat sangat aktifnya aktivitas kegempaan di Indonesia, sejak 2008 BMKG sudah mengoperasikan sistem peringatan dini tsunami (Indonesia Tsunami Early Warning System-InaTEWS). Sistem ini mampu memberikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami dalam waktu maksimal 5 menit,” kata Sadly.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menegaskan, seiring dengan kemajuan zaman, juga karena fenomena gempa yang kian kompleks dan tidak pasti , BMKG perlu segera membuat terobosan untuk mendukung mitigasi dan pengurangan risiko bencana gempabumi.

Untuk memitigasi gempa, kata Dwikorita, saat ini BMKG merasa tidak cukup hanya dengan memberikan informasi parameter gempa bumi yang disebarkan sesaat setelah terjadi gempabumi.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami, Rahmat Triyono menyatakan, konsep dasar EEWS menggunakan “end to end system” yang mampu memberikan peringatan dini gempa kuat kepada masyarakat.

EEWS mencakup 3 sistem, yaitu: Pertama adalah sistem monitoring yang mendeteksi gempa bumi di hulu, kedua adalah system automatic processing yang mengolah data secara cepat, dan ketiga adalah system diseminasi penyebarluasanan informasi/peringatan dini di hilir, ditujukan

Menurut Dwikorita, dengan diketahuinya potensi gelombang merusak lebih awal maka masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan melakukan upaya penyelamatan diri, termasuk menghentikan sementara objek vital untuk mengurangi dampak bencana yang lebih besar.

Uji coba pembangunan sistem ini di-launching oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Duta Besar China dan dari Institute of Care Life of China, 15 Agustus 2019 dengan melakukan pemasangan 10 unit sensor EEWS di wilayah Banten yang bertujuan untuk monitoring gempa bumi di wilayah Megathrust selatan Jawa.

Tahap selanjutnya akan dipasang 190 unit sensor yang akan berkonsentrasi di wilayah potensi gempabumi yaitu Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, dan Banten. Bila ujicoba ini berhasil maka akan dikembangkan secara masif di seluruh wilayah Indonesia.

Teknologi EEWS ini dinilai telah berhasil di China, hingga berkurangnya korban mencapai 39% hingga 63%.***(edy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru