Monday, December 17, 2018
Home > Cerita > Bintang Kejora, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Bintang Kejora, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Telah berbulan-bulan saya tergeletak di tempat tidur. Di atas ranjang besi model lama, di dalam kamar yang lembab karena bocor di sana sini. Saya menghabiskan hari-hari dalam keadaan kusut masai. Rambut yang telah banyak memutih karena uban, semrawut. Mengenakan daster atau  baju tidur lusuh, awut-awutan, kadang memperlihatkan lengan yang sudah menggelambir. Begitupun dengan dada, perut, dan paha yang telah berlipat-lipat, gambaran ketuaan yang tak mungkin bisa dipoles lagi seperti dulu.

Kebanggan yang pernah ada, merasa menjadi perhatian banyak pria, telah sirna. Perasaan bahwa diri ini bak sebuah planet, atau planet kedua terdekat dari Matahari yang bersiniar putih terang yang sangat mudah dilihat manusia dengan mata telanjang, telah hilang ditelan masa. Saya merasa tidak berarti lagi. Kebanggaan merasa menjadi planet bernama Bintang Kejora tersebut, karena selalu dikelilingi laki-laki, tinggal kenangan. Puja puji tak pernah ada lagi, saya tergeletak tanpa daya di tengah kesemerautan. Kini tak ada lagi Tine G “Si Bintang Kejora” yang ada adalah Tine G “Si Janda Tua Renta”.

Lutut kerap terasa ngilu, bahkan sakit. Pinggang kaku. Betis dan telapak kaki bengkak, kerap terasa nyut-nyut, nyeri. Semua itu membuat saya tak bisa beraktifitas leluasa, Mandi pun hanya dua atau tiga hari sekali, karena tubuh terasa berat, sakit kepala atau kerap pusing, dan perut mual.

Tidak hanya badan terasa lemas, nyeri persedian dan nyeri otot,  tetapi flu pun kerap menyerang, tenggorokan sakit, demam, terasa kelelahan, serta muncul ruam di tubuh, meski tidak gatal, dan berat badan menurun. Menurut beberapa orang yang saya tanya, penyakit yang saya alami mirip gejala diserang penyakit HIV AIDS. Saya khawatir, nafsu makan menurun. Jangan-jangan memang terserang penyakit sistem kehilangan kekebalan ketahanan tubuh secara drastis tersebut.

“Rajin-rajinlah kontrol ke dokter,” kata salah seoerang anak saya, ketika saya mengeluhkan keadaan saya melalui telepon.

“Baik deh,” kata saya singkat.

Tak ada upaya lain dari anak saya itu, missal bernisiatif mengantar saya ke rumah sakit atau ke dokter.

Pikiran saya kerap melayang ke masa lalu, ketika saya memutuskan minta cerai kepada suami pertama. Saya mengambil keputusan sulit itu, karena suami saya jauh dari yang saya harapkan. Dia tak lebih seperti binatang, dalam hidupnya hanya ada dua, makan dan seks. Birahinya begitu menggebu-gebu, bahkan terhadap anak balita pun dia terangsang.

Suatu waktu pembantu melapor kepada saya, bahwa suami saya menggerayangi anak kami, anaknya sendiri, yang baru berusia 5 tahun. Dia menciumi barang terlarang anaknya sendiri dengan bernafsu, dan salah satu tangannya memegang kemaluannya sendiri. Begitu pembantu memergokinya, dia marah besar, mengusir. Namun pembantu bergeming dan mengambil bayi kami, menyelamatkan. Tindakan suami saya itu tak dapat saya terima, saya memutuskan minta cerai, meski dia menciumi telapak kaki saya berkali-kali, minta maaf.

Laki-laki kedua, kami nikah siri. Saya tak yakin apakah pernikhan itu sah, karena kami kawin secara diam-diam, dikawinkan oleh seorang ustadz. Kenyataannya saya tak lebih sebagai wanita simapanan dari seorang yang usianya 15 tahun di atas saya. Dia mencukupi kebutuhan saya, sekali-sekali kami ketemu di sebuah penginapan atau losmen tidak jauh dari kantor saya atau di beberapa hostel atau penginapan lainnya di Jakarta, untuk melakukan hubungan badan. Sempat berjalan beberapa tahun, kemudian putus tanpa alasan.Mungkin sang laki-laki tua itu sudah bosan atau sudah tak berdaya.

Kemudian saya tertarik terhadap seorang pria yang usianya hanya 4 tahun di atas saya. Perkenalan kami begitu cepat. Hanya beberapa bulan sejak jumpa pertama kalinya ketika kami sama-sama bertugas ke suatu kota, kami memutuskan menikah secara resmi, berstatus sebagai istri kedua. Hubungan kami berjalan selama lima tahun, hingga akhirnya sang suami mengirimkan surat cerai.

Suami ketiga itu menceraikan saya, karena dia menilai saya bukan wanita beriman yang dia inginkan. Kebiasan saya foto-foto bersama dengan laki-laki, bersalaman  dengan bergegaman tangan dan duduk berdempetan dengan laki-laki bukan muhrim, menjadi alasan dia memutuskan saya. Apalagi saya tidak sholat, puasa, membayar zakat, dan menggap semua agama sama, membuat dia bulat meninggalkan saya.

Saya menjadi janda untuk ketiga kalinya dengan penilaian dari mantan suami terakhir sebagai perempuan musyrik, karenaa saya percaya dukun dan sering meminta pertolongan seorang dukun perempuan yang dianggap banyak orang sebagai orang pintar yang ampuh. Saya memang telah lama memanfaatkan jasa orang pintar tersebut, termasuk memasang susuk kecantikan, agar selalu terlihat cantik. Terutama dari pandangan lawan jenis.

“Maafkan saya. Kita bukan pasangsan yang cocok. Saya putuskan kita berpisah saja, dan ini surat cerai dari saya.” Itu ucapan terakhir dari suami terakhir saya, kemudian tidak pernah kembali lagi.

Saya hanya pasrah.

***

Janda. Kata yang hanya terdiri dari lima huruf ini kerap diartikan masyarakat negatif, membuat orang mencibir, sekaligus menuding perempuan atau wanita berstatus janda merupakan bahaya, perusak keluarga orang. Namun setelah melihat beberapa nama usaha, seperti; Steak Janda, Bakso Janda, Nasi Goreng Janda, Sate Janda, Restoran Janda Idaman, Warung Janda Genit, Soto Janda Kesepian, dan usaha janda-janda lainnya, saya mulai terhibur dan tak malu berstatus janda.

“Ibu harus tetap percaya diri. Jangan dengarkan omongan orang,” kata ibu tua, seorang paranormal, yang selama ini menjadi andalan saya.

“Ya Bu,” kata saya.

Lalu dia menyeburkan air dari mulutnya ke kepala saya.

“Uf, uf, uf, jadikan perempuan ini terlihat menarik di mata laki-laki. Uf, uf…..” tutur dukun itu sambil meniup kepala saya.

Dalam usia mendekati 60 tahun saya memang masih mampu tampil menarik. Kerut-kerut di wajah, leher, dan seluruh tubuh bisa saya tutupi. Memiliki sedikit keahlian dalam memoles diri, memanfaatkan minyak zaitun, sejumlah skin, dan memoles wajah dengan bedak lumayan tebal, membuat saya masih terlihat segar. Setidaknya menurut perasaan saya. Meski setelah muka dibasuh dan semua bahan-bahan itu hilang, kerut-kerut ketuaan kembali terlihat jelas. Sementara perut berlipat lemak, sekujur tubuh bergelambir, dengan mudah ditutupi dengan pakaian yang menutupi seluruh badan.

Dengan menggunakan foundation dan bedak lumayan tebal, saya masih kerap dilirik laki-laki. Bantuan orang pintar atau dukun menambah rasa percaya diri saya. Tentunya yang tertarik kebanyakan laki-laki iseng, laki-laki penggoda, kakek-kakek, pria tua botak. Semua itu tidak menjadi soal. Saya masih berhasil mengajak sejumlah laki-laki berfoto ria, kemudian dikirim ke WhatsApp teman-teman atau ke grup-grup dimana saya tergabung. Berbagai komentar pujian cukup menghibur, apalagi ada laki-laki yang menyebut saya tampak muda, segar, dan cantik, bintang.

Namun puja puji itu ternyata hanya basa-basi. Sebagai karyawan rendahan di sebuah perusahaan, yang sebagian karyawannya adalah laki-laki, rupanya apa yang mereka ungkapkan hanya untuk menyenangkan sesaat. Tetapi setalah itu, sikap asli mereka mulai tampak. Begitu mereka tahu saya janda, ajakan macam-macam pun muncul. Mengajak berhubungan badan.

Sampai suatu waktu, saya membaca sebuah kiriman di grup WhatsApp dengan judul mencolok “AWAS PERANGKAP JANDA NAKAL”.

Isinya; “Akhir-akhir ini terjadi trend baru dari para janda-janda atau bahkan juga wanita berkeluarga yang  nakal dalam menjebak mangsangnya. Yakni dengan memanfaatkan teknologi. Telah banyak laki-laki mengaku jadi korban, mungkin termasuk anda.

 Modusnya sederhana. Janda-janda nakal itu mendekati laki-laki yang diincarnya, entah itu yang ditemui di suatu tempat acara, di pesta, atau di luar kota. Dia minta berfoto berdua dengan laki-laki tersebut, dan dia minta foto diambil dengan menggunakan hp atau telpon genggam si laki-laki itu. Lalu hasilnya minta dikirim ke hp janda atau perempuan itu.

 Dia berusaha tampil semesra mungkin dengan laki-laki itu saat berfoto. Nah di sinilah musibah itu berawal. Foto berduaan itu kemudian dikirim ke media sosial, atau ke teman-temannya. Diusahakan foto bisa dilihat oleh istri laki-laki yang jadi sasaran. Pada kiriman foto itu diberi catatan bahwa foto itu dikirim laki-laki yang berfoto bersama dia.

 Bila si laki-laki itu kena batunya, ribut sama istrinya, maka janda itu langsung memainkan peran. Siap menghibur, termasuk urusan ranjang. Nah, hancur lah laki-laki korban, menjadi sapi perahan sang janda nakal. Yang tidak hanya mempermainkan dan memeras satu laki-laki, tapi bisa beberapa orang sekaligus.

 Janda nakal ini juga memanfaatkan wajahnya yang masih agak lumayan (meski hasil polesan) untuk menguasai atasannya di tempat kerja. Kerap terjadi, bila tugas ke luar kota bersama atasan, janda nakal itu dengan berbagai alasan minta menemui atasanya di kamar tempat mereka menginap. Bila sang bos mau, di sinilah bermula petaka.

 Bila akhirnya kesempatan itu bisa dimanfaatkannya menggoda dan ditiduri sang bos, selanjutnya dia menguasai bos, sehingga urusan kantor, luar kantor, bahkan tugas ke daerah jadi mudah baginya. Janda nakal itu tak minta duit langsung sama bos tapi memanfaatkan kekuasaan bos untuk minjam uang perusahaan.

 Biasanya dengan alasan mau menggelar pesta mengawinkan anak, atau mau renovasi rumah, dia meminjam uang ke perusahaan dalam jumlah besar. Tapi lanjutannya, utang ke kantor itu sang bos yang diminta bayar. 

 Untuk memperlancar upayanya mencari mangsa, biasanya janda nakal itu berpenampilan sangat sopan. Berjilbab dan berpakaian muslimah. Namun itu hanya kedok, padahal agamanya tidak jelas. Tidak pernah melakukan kewajiban sebagai umat Islam.

 Alasannya, cara berpakaian seperti itu membuat laki-laki mudah digoda. Padahal dia tak sadar telah berbuat  janggal.  Dia menyamar sebagai perempuan muslimah, namun tanpa sadar menempel ke ke banyak laki-laki, bahkan duduk berdempetan. Hal yang tidak mungkin dilakukan wanita muslimah.

 Ini pengalaman sesungguhnya dari beberapa orang yang mengaku pernah kena tipu oleh janda nakal seperti itu.

 BAGIKAN atau share pengalaman ini. Semoga keluarga kita, kerabat, dan teman-teman tidak ikut menjadi korban janda atau perempuan nakal. Namun jangan dikira semua janda nakal. Banyak juga yang baik tentunya.

 Copas dari tetangga. Peringatan bagi laki-laki yang gampang tergoda…”

 WASPADALAH…..

Saya cukup shock membaca kiriman di grup WhatsApp tersebut. Apalagi grup itu diikuti hampir  seluruh karyawan tempat saya bekerja. Ditambah lagi kiriman itu peris ada di bawah foto saya dengan seorang laki-laki yang saya share di grup itu.

Saya sangat yakin kiriman pesan peringatan tersebut ditujukan kepada saya. Karena saya memang janda. Sasaran itu diarahkan kepada saya semakin jelas, ketika beberapa hari berikutnya seorang rekan, juga janda, men- share foto kami berdua bersama seorang laki-laki. Persis di bawah foto kami itu muncul beberapa pantun yang dikirim anggota grup. Dan pantun itu antara lain dikirim dua laki-laki yang pernah saya ajak foto berdua.

Pantun-pantun tersebut mengingatkan tentang bahaya para janda, yang selalu memasang perangkap dan menguber laki-laki, meski akhirnya hanya cukup untuk foto bersama. Jika bisa janda itu ingin menjadi istri, walau hanya istri ketiga. Janda disebutkan melakukan berbagai cara dalam menggoda, termasuk menggunakan jampi-jampi dari dukun.

“Gila,” tutur saya.

 Usai membaca pantun-pantun itu saya terhenyak, duduk di kursi. Nafas terasa sesak, kepala pusing, Saya marah, namun marah kepada siapa? Kenapa dua kejadian itu, peringatan tentang bahaya janda dan pantun tentang janda kok persis betul dengan rencana saya memanfaatkan status janda saya menjerat laki-laki. Kedua peristiwa itu merupakan potret diri saya.

Tapi masa bodoh. Kenapa para pedagang boleh memanfaatkan status jandanya sebagai nama usahanya, kenapa saya tidak? Lagi pula apa urusannya dengan orang lain. Saya mau menggoda laki-laki kek, mau berfoto bersama laki-laki, atau bahkan mau mengajak laki-laki tidur di losmen, hotel, atau saya ajak sekalian ke rumah saya, bukan urusan. Soal dosa itu urusan saya dengan tuhan. Mau mengatakan saya pelacur, silakan.

***

Keinginan saya tetap bulat. Saya  Tine G “Si Bintang Kejora” tetap dengan rencana. Di sejumlah media sosial saya memang sengaja menambah nama saya dengan sebutan “Si Bintang Gejora” karena merasa bersinar di tengah banyak laki-laki. Saya sering melakukan tugas ke daerah bersama sejumlah laki-laki, kesempatan itu saya manfaatkan untuk menggoda beberapa diantaranya.

Hasilnya, setidaknya tiga laki-laki berhasil saya buat bertekuk lutut, salah satunya atasan saya di kantor. Dengan berbagai cara, mirip cerita peringatan di WhatsApp grup kami, saya kini bisa mengendalikan atasan tersebut. Sejak dia tergoda untuk berhubungan badan dengan saya ketika kami sama-sama tugas luar kota ke Bandung, sejak itu dia dengan mudah saya kendalikan. Tidak hanya untuk keperluan meminjam uang ke kantor atas jaminannya, dia secara rutin juga membiaya hidup saya. Kerap, jika saya menyerahkan titipan uang dinas luar kota atau honor suatu kegiatan kepadanya, dia hanya tanda tangan kwitansi, dan berucap; “Uangnya untuk kamu saja”.

Sejak itu kami berhubungan secara rutin, di sebuah penginapan tidak jauh dari kantor, atau di hotel-hotel lain, juga kalau sama-sama tugas ke luar kota. Bahkan ketika saya hendak pergi tugas luar kota, dengan alasan biar tidak terlambat bila berangkat dari rumah, saya selalu menginap di sebuah penginapan bernama Terang Bulan, yang cukup ditempuh berjalan kaki dari kantor. Sang bos selalu mampir ke penginapan, dan setelah melepaskan hajat, menjelang tengah malam dia pergi, pulang menemui istri.

Selain seorang atasan, yang berhasil saya kendalikan, termasuk soal menunjuk orang untuk penugasan ke luar kota bagi karyawan untuk dinas perusahaan atau tugas sosial, saya juga melakukan hubungan serupa dengan dua laki-laki lain. Kami juga sering melepaskan birahi di penginapan sama, atau di sebuah hotel dekat bandara, jika kami sama-sama bertugas ke luar kota. Saya juga memiliki hubungan serius dan intim dengan seorang wanita. Justruhubungan sesama wanita inilah yang  saya nikmati, memuaskan, karena hubungan dengan laki-laki tak lebih hanya untuk mendapatkan biaya hidup. Karena berhubungan dengan laki-laki saya merasakan tak ada lagi kenikmatan, longgar.

Gairah saya terhadap laki-laki sebetulnya telah lama hilang, terlebih setelah dicerai oleh suami ketiga. Hanya karena kebutuhan uang lah yang mendorong saya menjalin hubungan dengan para bandod, dengan pria yang sok terhormat namun khianat terhadap keluarganya. Saya merasa puas mempermainkan mereka, membuat mereka ketakutan setiap saya mengancam akan menghubungi istri mereka. Hasilnya, uang pun dengan lancar mengalir ke dompet saya.

Pernah suatu waktu seorang rekan di kantor mengatakan kepada saya bahwa bos yang telah berhasil saya taklukkan akan memindahkan posisi saya ke tempat “kering”, tak lagi berkaitan dengan tugas ke luar kota. Saya langsung mengancamnya. Dia pun terampun-ampun dan menyatakan rencana itu bukan idenya dan dia berjanji akan menggagalkan rencana itu. Jadilah saya aman.

Selain menguasai ketiga laki-laki tua yang menjadi sapi perahaan, saya juga kerap memanfaatkan kesempatan untuk menggoda laki-laki lain. Umumnya yang saya goda adalah laki-laki asal luar Jakarta atau di luar Pulau Jawa, karena laki-laki asal luar Jawa mudah ditaklukkan. Cukup diajak foto berduaan, lalu puji-puji, hasilnya laki-laki tersebut menyiapkan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Bahkan ada yang rutin mengirim oleh-oleh, tentunya harapan merekajelas, suatu waktu bisa meniduri saya.

“Dasar laki-laki bodoh, mudah dibohoingi,” gumam saya setiap selesai berhubungan dengan laki-laki korban saya.

***

Keperkasaan saya yang bangga dengan nama Tine G “Si Bintang Kejora” tak selamanya kokoh. Kemampuan saya mengendalikan sejumlah laki-laki dan membuat mereka bertekuk lutut selesai sudah. Masa pensiun yang harus saya jalani menjadi bencana, terhempas di tengah kebutuhan masih tinggi. Saya masih punya utang ke perusahaan, yang harus di potong dari dana pensiun, saya juga harus membayar utang ke koperasi, serta ke beberapa teman. Dana pensiun yang saya terima ludes, tak meninggalkan sisa berarti.

Rumah yang saya tempati terasa sesak. Tempat tiggal yang baru saja direnovasi hasil meminjam uang dari perusahaan dan sumbangan dari beberapa laki-laki yang berhasil saya goda, juga tak berarti.

Saya sebetulnya sudah lama berencana menjual rumah yang ada di salah satu kawasan di pinggiran Botabek, tapi tak bisa, tidak memiliki surat-surat lengkap, karena developernya melarikan diri. Banyak rumah-rumah di komplek saya, termasuk di sekeliling rumah saya,  dibiarkan hancur oleh pemiliknya, karena selain berlokasi di tempat terpencil, masalah surat-surat jadi alasan. Rumah tidak laku dijual, jikapun ada yang mau harganya sangat murah.

Hancur, tidak hanya harapan yang luluh lantak, apa yang ada di badan juga sudah tamat. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan. Wajah yang peot, tubuh yang tak lagi segar, rambut rontok dan telah dipenuhi uban, serta seluruh sendi terasa sakit-kakitan. Saya kadang berpikir, apakah saya akan mati dalam kesendirian. Bantuan dukun tak lagi mempan.

Tidak seorang laki-lakipun yang pernah berhubungan dengan saya datang atau menghubungi, meski hanya sekadar menyapa lewat telepon. Juga teman wanita yang pernah berhubungan intim dengan saya, jangankan nongol, mengirim pesan pun tidak. Kekhawatiran dan ketakukan saya semakin dalam, hari-hari hanya diisi penyesalan, kenapa saya terjebak pada perbuatan hina, penuh dosa?

Laki-laki terakhir yang berhubungan dengan saya tak lagi bisa dikontak. Dia adalah laki-laki terakhir yang berhasil saya goda dan bersedia memberi biaya hidup saya. Setelah kami bertemu di kota tempat dia tinggal, di luar Jawa, ketika saya bertugas ke sana, kemudian terakhir di Jakarta ketika dia singgah usai bertugas di salah kota di Jawa, sejak itu dia tak bisa dihubungi lagi. Bagai ditelan bumi.

“Ini dari saya. Mudah-mudahan cukup,” katanya menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah, sebelum kami berpisah di suatu penginapan.

Saat menerima uang itu saya merasa hina, seolah-olah saya ini perempuan bayaran, WTS. Meski begitulah kenyataannya. Saya berhubungan badan dengan siapapun dengan harapan mendapat imbalan.

Sejak itu saya benar-benar sendiri. Laki-laki terakhir itu tak dapat dihubungi lagi. Saya merasa diabaikan, meski yang saya harapkan bukan dia, sosok yang hanya biasa-biasa saja. Yang saya rindukan adalah uangnya, meski terbilang receh. Karena itu dalam berhubungan pun saya tak menikmati. Hanya pura-pura, terpaksa, karena hanya dia yang tinggal bisa saya goda.

***

Tetangga pun tak peduli, mungkin mereka takut berdekatan dengan saya, karena kemungkinan saya terkena HIV AIDS telah tersebar. Dua anak saya juga tak pernah berkunjung, mereka sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Inikah awal dari pembalasan? Pembalasan dari tuhan, atas dosa-dosa yang telah saya lakukan.

“Ampuni hamba ya Allah,” tiba-tiba ucapan itu terlontar begitu saja.

Saya tidak tahu bagaimana caranya bertobat. Saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena selama ini saya tidak percaya pada salah satu agama manapun. Saya berpakaian ala muslimah, namun saya bukan Islam.

Saya tak pernah sholat, puasa, zakat, naik haji, dan lainnya, karena semua itu saya anggap hanya buatan manusia. Buatan bangsa Arab.

“Allah tunjukkanlah hamba jalan yang benar,” kembali saya berharap tanpa sadar. Mungkinkah Allah itu ada?

Tiba-tiba sekujur tubuh  terasa panas, kepala sakit serasa mau pecah. Apakah ini akhir dari segalanya. Terdengar pintu rumah digedor-gedor, beberapa orang menerobos masuk.

“Tolong diperiksa Pak, kemungkinan dia menderita HIV AIDS.”

“Iya Pak, tolong. Kami takut ketularan. Bawa saja dia Pak. Gak ada yang ngurus,” kata suara lain.

“Sabar bapak, ibu. Sabar. Kami periksa dulu,” kata suaru seorang laki-laki.

Saya coba membuka mata. Beberapa bayangan putih berada di sekitar saya. Kemudian kepala saya terada pusing, telinga berdenging.

“Ibu, ibu. Ibu lagi sakit? Apa ibu mendengar saya?”

Sayup-sayup terdengar suara bertanya, namun saya tak mampu menggerakkan mulut, apa lagi menggerakkan tubuh.

Tiba-tiba saya tersadar. Saya telah berada di sebuah ruangan, kamar rumah sakit yang ditempati beberapa orang. Tak seorang pun yang menunggui. Tak ada tetangga, apalagi anak, atau sanak keluarga. Apakah tak ada lagi yang peduli kepada saya?

“Mudah-mudahan yang memperjuangkan LGBT agar dilegalkan negara diberi kesadaran oleh tuhan,” kalimat itu meluncur dari mulut saya.

“Beri saya waktu ya Allah. Tuntun hamba ke jalan yang benar. Bukakan jalan untuk bertobat. Amiin.”

Mata semakin berat. Napas terasa sesak. Badan tak bisa digerakkan, tak seorang pun yang menunggui. Saya ingin bertobat, namun tidak tau caranya. Kepada siapa saya bisa bertanya? ***

Jakarta, Juli 2018

Cerpen Bintang Kejora ini sebelumnya telah dimuat di koran Berita Pagi Palembang, 14 Juli 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru