Tuesday, December 12, 2017
Home > Berita > Bertemu Syamsul Anwar Harahap di Kota Tua

Bertemu Syamsul Anwar Harahap di Kota Tua

Syamsul Anwar Harahap. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Tubuhnya kelihatan tetap tegap, jemari lengannya besar dan kepalannya kokoh ketika bersalaman. Ini bukan cerita pendek, tapi kenyataan menggembirakan ketika bertemu dengan pria ramah itu setelah mungkin 20-an tahun tak bertemu.

Sang jagoan petinju asal Pematang Siantar yang pernah kondang puluhan tahun lalu itu, lama bersahabat dengan para wartawan olahraga nasional ketika masih berkantor di Sekretariat SIWO-PWI Jaya di kawasan Lapangan Tembak Senayan – kini sudah menjadi Hotel Mulia.

Salah seorang wartawan olahraga jaman doeloe, Prayan Purba, suatu hari mendapat nomor telepon mantan juara tinju Asia itu dan berjanji suatu saat akan bersilaturahmi. Hari yang ditentukan tiba dan Syamsul meminta bertemu di Kota Tua, Jakarta Utara, salah satu tempat paling bersejarah di Batavia.

Kami berpelukan di tengah pengunjung Kota Tua yang siang itu begitu ramai, walau bukan sedang hari libur. Kami berjalan perlahan ke bagian luar pojok Kota Tua dan melihat ada bangunan yang juga sudah setengah tua, yang tampak baru direnovasi.

“Di sini saya tinggal saat ini,” kata Syamsul, kelahiran Pematang Siantar, 1 Agustus 1952.  Pada 23 Oktober 2017, ia kelihatan masih muda, tidak jauh berbeda dengan ketika kami selalu bertemu 20-30 tahun lalu.

“Wuih tempatnya bagus, strategis, enak lagi, ada berbagai fasilitas,” kata Prayan Purba, sembari menyapu pandang ke sekeliling kawasan itu dan menebar tanya kepada Syamsul Anwar.

Di bangunan sederhana “one Stop Fasility” itu terdapat warung makan Padang, ada tempat santai untuk rileks sembari menghirup berbagai jenis minuman jus dan makan ringan.  Ada juga mushola kecil. Ada tempat buang air kecil, tentu saja berbayar Rp2000,- sekali masuk.

“Di tempat kencing dengan enam kamar mandi kecil itu, pernah didatangi sekitar 5.000 orang dalam 24 jam. Itu terjadi pada hari Imlek dan Tahun Baru. Kalau Sabtu dan Minggu sekitar 2.000-an orang per hari,” kata Syamsul. Saya dan Prayan Purba saling pandang seolah tak percaya.

Syamsul Anwar Harahap tetap tegap, berpose bersama wartawan Prayan Purba. (arl)

“Karena di kawasan ini hanya ada satu fasilitias buang air.  Sebelumnya ada sekitar lima tempat, tapi semua tergusur karena di tempat umum. Nah kalau shalat Magrib, mushola kecil ini penuh sesak, sehingga harus bergantian untuk shalat jamaah,” kata Syamsul, yang memiliki berbagai piala kemenangan dalam berbagai pertandingan tinju.

Syamsul terus bercerita tentang masa lalunya setelah tidak lagi bertinju, tidak lagi muncul sebagai komentator tinju di televisi – juga tidak lagi menulis komentar tinju di berbagai media massa – sehingga seolah raib dari dunia ini, terlebih setelah sekretariat SIWO Jaya yang dulu tempat kita bertemu, sudah rata dengan tanah.

Cerita Syamsul amat menarik, karena ini tentang pengalaman hidup. Ia berceloteh ketika kami menghirup jus di kantinnya. Ia pun bercerita panjang lebar tentang berbagai hal ketika kami santap siang di warung Padang Putri Hasian, juga seusai shalat ber jamaah di mushola.

Kepuasan batin

Apa yang paling berkesan dalam hidup ini?

“Ketika saya berhasil menyelesaikan sekolah anak-anak saya,” kata Syamsul, sembari membeberkan suka-duka mencari biaya sekolah anak-anaknya, sesaat terlihat matanya berkaca-kaca.

Syamsul dan Prayan berpose di depan RM Putri Hasian. (arl)

Leo Yudhantara Harahap adalah putra pertama Syamsul, lulusan Universitas Technology of Sydney kini sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Anak nomor dua, Nina Permata Harahap, lulusan IPDN bekerja di kantor camat Jagakarsa di bagian pemerintahan dan anak ketiga Dian Esperenza Harahap juga lulusan IPDN, kini sebagai Lurah di Kebagusan, Jakarta Selatan, di wilayah tempat tinggal Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri. Ada lagi, Putri Hasian Harahap berusia tiga tahun dan Namora Anwar Harahap usia 1.5 tahun, dari ibu lain.

Putri Hasian itu menjadi nama restoran Padang milik Syamsul, yang ketika kami santap siang di situ, pengunjungnya pun silih berganti di beberapa meja yang ada dalam ruang itu.  “Saya harus menyelesaikan sekolah mereka, dua anak yang masih kecil itu,” kata Syamsul, yang sebenarnya memiliki lahan tempat tinggal di kawasan Cibubur.

Ketika masih aktif bekerja, 20-30 tahun lalu, wartawan olahraga sering diajak ke rumahnya di Cibubur,  sembari mancing ikan di kolam cukup lebar, serta bercengkerama sambil main joker Karo.

“Saya merasa kepuasan batin luar biasa, ketika anak-anak saya lulus sekolah dan bekerja dengan baik. Ini perasaan batin yang sebenarnya, berbeda dengan kepuasan lainnya yang pernah saya rasakan,” tutur Syamsul, anak pasangan Bisman Harahap dan Nauly Siregar.

Syamsul Anwar pernah menjadi cerita dunia, karena ia tumbuh sebagai remaja cacat di lengan kanan akibat serangan penyakit polio, tapi pamannya membimbing Syamsul berlatih tinju dan pada 31 Oktober 1969 merupakan awal karirnya saat bertanding melawan Khaeruddin di kelas terbang.

Ia sudah naik ring sebanyak 139 kali dengan 123 menang, 16 kali kalah tanpa pernah kalah KO dan pernah tampil sebagai jaura Asia di kelas welter saat mengalahkan Thomas Hearns dari Amerika Serikat pada turnamen Piala Presiden 1976.

Ia juara Asia kelas welter ringan pada 1977 dan pernah masuk 16 besar pada Olimpiade Montreal 1976 dan masuk 10 besar pada Kejuaraan Dunia Tinju Amatir 1978 di Beograd. Ia menerima penghargaan sebagai olahragawan terbaik 1978.

Setelah menggantung sarung tinju, Syamsul pernah bekerja sebagai karyawan Pertamina dan pada 1984 menjadi manajer produksi PT Sepatu Bata di Jakarta.

Ia pun sebagai komentator tinju pertama di Indonesia yang saat itu baru ada satu televisi, TVRI. “Ketika itu belum ada komentator sepak bola, balap mobil, dll. Hanya ada satu komentator tinju dan dulu saya dilatih Sambas,” katanya.

Apakah Syamsul betah di Kota Tua?

“Sebagai tempat usaha tentu betah, tapi saya terus bergerak karena tidak dapat berdiam diri,” kata Syamsul.

Mencari Syamsul Anwar saat ini rada-rada susah, karena ternyata ia lebih banyak di kampung halamannya di daerah Padang Bolak di Tapanuli Selatang, Sumatera Utara.

Kami bertiga berbincang santai di kantin milik Syamsul. (prayan p)  

Ia memilik lahan cukup luas di kampung halamannya, ditanami kelapa sawit, karet dan berbagai tanaman lain seperti pohon sirsak dan jengkol.

“Di kampung saya kalau tanahnya lagi kering, bisa pecah lebar-lebar. Penduduk tidak bisa bercocok tanam. Nah, saya bawa mesin air dari Jakarta untuk digunakan di sana. Saya tanam sirsak dan jengkol, karena amat dibutuhkan bukan saja di daerah saya tapi juga di daerah lain,” kata Syamsul.

“Jadi petani itu jangan sibuk di ladang saja,” katanya, “tapi di jaman sekarang butuh jaringan. Makanya saya memasang jaringan ke berbagai kota dan ternyata banyak sekali daerah lain yang membutuhkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita adakan,” kata Syamsul, yang pada awalnya mendapat tantangan keras dari warga kampung itu setiap ia melontarkan idenya.

Kini hidup Syamsul Anwar cukup dinamis sekaligus dramatis – karena hanya beberapa hari di Jakarta, selebihnya di kampung halaman. Antara keramaian dan kesepian. Antara kebisingan dan keheningan. Kendati sebenarnya saat ini ia lebih menyibukkan diri dengan orang lain – dengan saudara handai tolan dan pekerja di ladang – sementara dengan diri sendiri ia menukik dan menemukan hakikinya kehidupan.

“Saya selalu berdialog dengan diri saya sendiri. Terasa sekali bedanya dengan ketika kita berpikir 20 atau 30 tahun lalu. Perasaan itu tak terungkapkan tapi terasakan. Dulu kita selalu melakukan sesuatu dan berpikir apa adanya, tetapi sekarang kita lebih khusuk berpikir sebelum melakukan sesuatu,” ujar Syamsul, yang kini lebih banyak memakmurkan Baitullah di kampungnya.

Kalau sabar melayani Syamsul bercerita, mungkin suasana semakin seru, karena selain bercerita tentang kehidupannya dan masalah atlet tua, ia mulai bercerita tentang masalah ekonomi dan politik. Ini terdengar realistis, karena Syamsul juga memiliki sahabat di level tertentu, yang mengetahui banyak hal tentang masalah ekonomi, sosial budaya dan politik negara saat ini.

Tapi Bang Prayan masih harus ngantor petang itu, sehingga mau tak mau kami harus amit mundur dan berjanji kapan-kapan ketemu lagi.

Bang Syamsul, cerita pengalaman hidup selalu amat menarik untuk dipaparkan dan didengarkan, semoga bertemu lagi dan cerita disambung di lain hari.  (A.R. Loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru