Thursday, June 04, 2020
Home > Berita > Bertahan atau Mati Bersama: Lebih 400 Tewas di Ghouta Timur Akibat Serangan Bom Suriah

Bertahan atau Mati Bersama: Lebih 400 Tewas di Ghouta Timur Akibat Serangan Bom Suriah

Serangan udara yang dilakukan oleh pesawat tempur Suriah dan Rusia sejak hari Minggu tanpa henti, telah memporak porandakan Ghouta Timur. (Foto: SAMS/Al Jazeera)

Serangan udara yang dilakukan oleh pesawat tempur Suriah dan Rusia sejak hari Minggu tanpa henti, telah memporak porandakan Ghouta Timur. (Foto: SAMS/Al Jazeera)

Ini adalah pengulangan penghancuran di wilayah anti-pemerintah Suriah lainnya, di Aleppo.

Mimbar-Rakyat.com (Ghouta) – Pada hari kelima serangan udara yang dilakukan pemerintah Suriah di daerah kantong anti-pemerintah di Ghouta Timur, membuat korban telah tercatat 403 orang terbunuh. Demikian dilaporkan Al Jazeera, mengutip kelmpok pemantau dari tempat kejadian.

“Lebih dari 400 orang telah terbunuh di Ghouta Timur”, lapor kelompok pemantau. Pada hari kelima serangan tersebut terjadi terus-menerus pemboman udara oleh pasukan pemerintah Suriah yang didukung pesawat tempur Rusia.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyebutkan, setidaknya 403 orang terbunuh dalam serangan “histeris” yang dimulai pada hari Minggu, termasuk 150 anak-anak. Hampir 2.120 lainnya luka-luka.

Seorang gadis korban serangan udara di Ghouta Timur ketika berada di sebuah rumah sakit untuk mendapat perawatan.(Foto: AFP/Al Jazeera)
Seorang gadis korban serangan udara di Ghouta Timur ketika berada di sebuah rumah sakit untuk mendapat perawatan.(Foto: AFP/Al Jazeera)

Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, menekankan perlunya gencatan senjata. Pendapat itu dikeluarkan menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB, Kamis.

“Situasi kemanusiaan di Ghouta Timur sangat memprihatinkan dan oleh karena itu, kita memerlukan gencatan senjata yang menghentikan pemboman berat ke Ghouta Timur dan pembantai mortir sembarangan di Damaskus,” katanya.

Dia menambahkan bahwa gencatan senjata perlu diikuti dengan akses kemanusiaan tanpa hambatan dan sebuah evakuasi yang difasilitasi orang-orang yang terluka keluar dari Ghouta Timur, dan memperingatkan bahwa ini adalah pengulangan penghancuran di wilayah anti-pemerintah Suriah lainnya, di Aleppo.

Warga Ghouta Timur, yang sebagian besar mengungsi, mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan dan tidak bisa disembunyikan.

Ghouta Timur dikuasai pemberontak atau masyarakat anti-pemerintah Suriah. Daerah pedesaan di pinggiran ibu kota Damaskus itu telah berada di bawah pengepungan pemerintah sejak 2013. Sekitar 400.000 orang tinggal di sana. Pengepungan telah membuat harga makanan langka dan mahal.

Tingkat kekurangan gizi telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Kantor Urusan Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB,  11,9 persen anak-anak di bawah usia lima tahun mengalami kekurangan gizi akut.

Peta lokasi penyerangan. (Al Jazeera)
Peta lokasi penyerangan. (Al Jazeera)

Nisma al-Hatri mengatakan kepada Al Jazeera; “Setiap hari berjalan seperti ini: pemboman, maka saya membersihkan rumah dari pengaruh tembakan di dekatnya, lalu kita bersembunyi di satu ruangan, mencoba bertahan atau mati bersama,” kata Hatri.

“Putri saya, Sara dan saya bangun dengan tangan saling berpelukan,” lanjut Hatmi. “Kami semua tidur di kasur, dia memeluk saya dan bertanya mengapa dia tidak bisa bermain, atau ke sekolah atau melihat teman-temannya, saya tidak bisa menjawabnya.”***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru