Wednesday, February 26, 2020
Home > Berita > Banjir Bandang di Sumut dan Lampung, Lima Nyawa Melayang

Banjir Bandang di Sumut dan Lampung, Lima Nyawa Melayang

Ilustrasi. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Medan)- Banjir bandang landa Padangsidempuan, Sumatera Utara merenggut, mengakibatkan lima nyawa warga melayang, 33 rumah hanyut dan 7 kendaraan hilang. Sedangkan di Bandar Lampung, banjir juga menjebol tembok rumah warga.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting kepada wartawan, Senin (27/3) mengatakan, banjir bandang diakibatkan meluapnya Sungai Batang Ayumi dan membawa banyak batang pohon.

“Total kerugian diperkirakan Rp 4,5 miliar. Lokasi terparah kena banjir di Kelurahan Batunada Julu,”katanya.

Petugas gabungan, masih kata Rina, membantu korban bencana banjir dan membangun posko tanggap darurat.

“Kelima jenazah itu belum teridentifikasi. Mereka tewas setelah hanyut,”ucapnya.

Tidak hanya Kota Padangsidimpuan yang diterjang banjir bandang, kemarin malam. Daerah tetangganya, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) juga mengalami hal yang sama.

Banjir bandang yang terjadi di Desa Malintang Jae, Kecamatan Bukit Melintang, Madina, mengakibatkan satu korban tewas dan menghanyutkan tiga rumah warga. Banjir ini bermula setelah meluapnya Sungai Patabotung.

DI LAMPUNG
Derasnya hujan mengakibatkan Kota Bandar lampung dikepung banjir. Bahkan ada tembok rumah warga yang jebol di Perumahan Melana Residance 5 yang terletak di Jalan Nusantara 7, Kelurahan Labuhan Ratu Raya, Lampung Senin.

Banjir mencapai pinggang orang dewasa dan merendam perabotan rumah tangga dan satu rumah warga dindingnya jebol yakni rumah milik Bahri.

Manurung,satu warga menuturkan banjir terjadi karena tidak adanya saluran pembuangan air. Menurutnya, karena pihak pengembang yang tepat bersebelahan dengan pemukiman mereka tidak mengizinkan adanya saluran air yang melalui wilayah perumahan tersebut.

“Lokasi rumah kami kan lebih tinggi dari Perumahan Pujangga Alam, jadi kalau dibuatkan saluran pembuangan air tentu harus melewati perumahan tersebut. Nah, pihak pengembangnya berkali-kali ditemui, tidak mengizinkan dibuatkan saluran air melalui perumahan mereka, makanya tiap hujan datang tempat kami pasti banjir,” terang Bahri.

Bahri mengatakan pihaknya sudah melaporkan masalah tersebut ke pihak kelurahan dan kecamatan. Dari pihak kecamatan sudah dilakukan pemeriksaan, namun hingga kini belum ada tindakan.

Sementara itu di wilayah Rajabasa juga terkena banjir akibat air sungai yang meluap menghanyutkan perabotan rumah milik Hamzah.

“Saat banjir datang saya selamatkan dulu istri dan 2 anak saya ke tempat yang lebih tinggi. Setelah balik lagi mau menyelamatkan perbotan sudah hanyut bahkan tabung gas dan kompor gas juga tv ikutan hanyut,” ujar Hamzah. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru