Sunday, November 17, 2019
Home > Internasional > Australia Tawarkan Tukar Tawanan, Jokowi Menolak Keras

Australia Tawarkan Tukar Tawanan, Jokowi Menolak Keras

MIMBAR-RAKYAT.com (Bogor) –  Australia menawarkan barter bagi warganya yang menjadi terpidana mati dalam kasus narkotika. Presiden Jokowi langsung menolak permintaan itu.

“Tidak ada (barter),” kata Jokowi usai mengikuti perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/3/2015).

Jokowi berkomitmen untuk terus menjaga hubungan baik dengan negara sahabat. Tapi hubungan baik itu tentu ada batasan yang juga harus dipatuhi.

Australia berupaya membujuk pemerintah Indonesia demi menyelamatkan Chan dan Sukumaran yang dikenal sebagai duo Bali Nine, dari eksekusi mati. Pemerintah di Negeri Kanguru itu menawarkan adanya tukar-menukar narapidana dengan Indonesia.

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop mengatakan, dirinya pada Selasa sore lalu (3/3) telah melakukan pembicaraan per telepon dengan Menlu RI, Retno Marsudi. Dalam pembicaraan itu, Bishop menawarkan tukar-menukar narapidana antara Australia dengan Indonesia demi menghindarkan duo Bali Nine dari eksekusi mati.

Saat ini memang terdapat tiga WNI yang menjadi terpidana kasus narkoba di penjara Australia. Ketiganya adalah Kristito Mandagi, Saud Siregar dan Ismunandar yang ditangkap pada 1998 karena membawa ratusan kili heroin di Pelabuhan Macquarie, New South Wales.

Mandagi dijatuhi hukuman 25 tahun penjara. Sedangkan Saud dan Ismunandar dihukum 20 tahun penjara.

“Kedaulatan hukum tetap‎ kedaulatan hukum. Kedaulatan politik tetap kedaulatan politik,” tegasnya.

Menurut Jokowi, semua pihak juga harus melihat korban yang sudah ditimbulkan akibat sepak terjang para bandar narkoba. Jutaan orang mati dan Indonesia sudah masuk tahapan darurat narkoba.

“Jangan selalu dilihat yang dieksekusi, lihatlah korban-korbannya, 4,5 juta,” tandasnya.

Dua warga negara Australia yang menjadi terpidana mati di Indonesia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran telah diboyong dari Lapas Kerobokan, Denpasar ke Pulau Nusakambangan untuk menjalani eksekusi.

Sementara Perdana Menteri Australia, Tony Abbott mengaku berupaya melakukan pembicaraan akhir melalui telepon dengan Presiden Indonesia Joko Widodo. Abbott merasa perlu meyakinkan pemerintah Indonesia bahwa Chan dan Sukumaran tak semestinya dihukum karena berperilaku baik selama di penjara. (Ais)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru