Wednesday, May 27, 2020
Home > Berita > Atal menangis di Sibolga

Atal menangis di Sibolga

Atal menerima ulos di Sibolga, Tapanuli Tengah, Rabu. (arl)

MIMBAR-RAKYAT.com (Sibolga) – Suasana seketika senyap, ketika hadirin mendengar nada suara Atal Sembiring Depari bergetar, matanya berkaca-kaca, karena merasa terharu menerima ulos merah yang diselempangkan melingkari leher dan pundaknya.

Ya, ia terharu dan terisak, menangis, ketika Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk menyelendangkan ulos merah ke tubuhnya, disaksikan Wakil Bupati Tapanuli Tengah Darwin Sitompul, Ketua PWI Sumut H Hermansjah – yang juga ikut diulosi, serta Ketua Pokja / PWI Tapteng, Sahat Jason Gultom.

“Saya terharu, terharu sekali. Bahkan di kampung sendiri pun saya belum pernah diulosi,” ujar Atal terbata dan bergetar, Rabu (4/3/20).

Suasana mendadak hening.  Ruang aula Hotel PIA Pandan seolah tak berisi manusia, padahal ruang itu penuh orang dan sebelumnya dipenuhi suara berisik. Ini acara pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar Pokja PWI – Tapanuli Tengah, 4-5 Maret 2020.

Putera Karo itu hadir di Sibolga, 350 km dari Kota Medan, untuk membuka acara itu, sekaligus ikut meninjau tambang emas Martabe di Batangtoru, Tapanuli Selatan, yang dikelola PT Agincourt Resources,  mitra penyelenggara UKW, sebagai uji kompetensi ke-30 yang dihelat PWI Sumut selama ini.

“Saya meraba kain ulos itu.  Jemari saya merasakan garis halus pada permukaan ulos itu. Ini berbedaa dengan kain biasa. Saya bisa merasakannya. Saya langsung tergetar. Gembira, sedih, terharu. Apalagi sebelumnya disebut ulos ini ditenun khusus oleh tangan-tangan halus, terampil dan cekatan. Saya membayangkan mereka sedang menenun,” kata  ketua umum PWI pusat itu.

Ketika Jumat kami mendarat di Bandara Soeta, kembali ditanyakan,  kenapa ia sempat menangis saat menerima ulos di Sibolga.  “Saya merasa amat terharu,” jawabannya tetap sama.

Selama puluhan tahun berteman dengan Atal, belum pernah melihat dia menangis, atau merasa terharu. Tapi kali ini ia menangis, ketika menerima ulos sebagai simbol bermakna spiritual suku Batak itu.

Ulos memiliki tiga warna, hitam, putih dan merah. Ketiga warna itu hakekatnya merupakan sari kehidupan dalam suku Batak.  Merah artinya keberanian, hitam sifat kepemimpinan dan putih menunjukkan kesucian.

Tapi belakangan ini,  berdasar info kepustakaan, sebagian besar ulos mendekati punah karena tidak diproduksi lagi. Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan sebagai penutup / bungkus jenazah) dan Ulos Sibolang, sudah susah menemukannya.

Kalau Atal mengetahui hal ini, dan menghayati betapa benda yang memiliki nilai budaya nasional itu semakin punah, tentu ia akan merasa lebih sedih dan terharu.  (ar. loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru