Monday, July 06, 2020
Home > Cerita > April Mop

April Mop

April Mop

April Mop

Bagaimana kabar Anda hari ini? Ya, hari ini ketika cerita ini ditulis, kalender memasuki tanggal 1 April 2015. Di negara lain hari ini sering ditandai dengan diperkenankannya seseorang melakukan kebohongan tanpa dianggap bersalah. Maka tanggal ini dikenal dengan nama April’s Fool. 

Menurut catatan, 1 April tahun 1957, Televisi BBC bahkan pernah membuat lelucon di berita utamanya, tentang panen spagheti di Italia. Tentu saja itu tidak benar karena spagheti adalah semacam mi yang dibuat dari tepung gandum, bukan hasil tanaman seperti kacang panjang. Namun karena waktu itu makanan ini belum populer di Inggris, masih banyak yang kena tipu. Mereka bahkan ada yang bertanya soal bagaimana cara menanam spagheti he..he..he.

Apakah Anda pernah tertipu hal yang sama? Saya tertipu ketika masih kuliah tahun 1977. Waktu itu berdua teman kami “diundang” menghadiri pesta ulang tahun seorang rekan mahasiswi di rumahnya di kawasan Cilandak, padahal kami kuliah di Rawamangun. Cukup jauh naik sepeda motor dan betapa terkejut ketika rumah yang dituju ternyata sepi-sepi saja, dan kami baru sadar ketika si empunya rumah menanyakan dari siapa kami mendapat kabar. Capeknya sih tidak seberapa, tapi malunya itu.

Tetapi yang penting adalah keesokan harinya, ada banyak teman tertipu juga, dengan berbagai kejadian. Kami saling mengejek, menertawakan, dan bergembira bersama. Itulah sifat kebanyakan anak muda dalam mengisi hari-hari belajar mencari ilmu pada saat kuliah.

Berita soal April Mop ini tidak banyak beredar di media di Tanah Air. Agak berbeda dengan tahun 1970-an bahkan sampai tahun-tahun lalu. Entah mengapa kalah dari peringatan yang juga berbau internasional seperti Hari Valentine, meskipun pelakunya adalah anak-anak muda. Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah munculnya tulisan yang mengatakan bahwa 1 April adalah peringatan hari pembantaian umat Islam di Spanyol Selatan tahun 1492, padahal hoax ini sudah dibantah Dr Yusuf Estes yang ahli sejarah. Tidak pernah ada pembantaian ribuan muslim tertulis dalam sejarah.

Sebenarnya tidaklah penting hari itu diperingati, apalagi bagi kita yang tidak punya kaitan sejarah ataupun relevansi dengan tanggal itu. Mau senang-senang silakan saja, anggap saja sebagai kelakar antarteman. Namun kalau dikonsumsikan untuk publik, misalnya ada media resmi yang menjadikan barang mainan untuk lelucon, agar hati-hati aja supaya tidak terkena masalah hukum. Tapi sejauh ini media di Indonesia tampaknya tidak mau ikut-ikutan seperti pernah dilakukan di Barat sana.

Yang jelas, 1 April ini berlaku tarif baru keret api, baik untuk komuter di kawasan Jabodetabek maupun jaringan kereta kelas ekonomi lainnya di Indonesia. Khusus untuk KRL yang sebelumnya penetapan tarif berdasarkan jumlah stasiun, kini perhitungannya berdasarkan kilometer jarak tempuh. Kalau dulu untuk 5 stasiun pertama dikenai biaya Rp 2.000, lalu 2 stasiun berikutnya dikenakan tambahan Rp 500, maka di aturan baru, 1-25 kilometer pertama dikenakan Rp 2.000, lalu kilometer berikutnya ditambah Rp 1.000 untuk 10 kilometer berikutnya, dan seterusnya.

Untuk warga Jaakarta, tarif ini jelas tidak ada perubahan, karena sejauh-jauhnya umumnya sekitar atau plus minus 25 kilometer, katakanlah dari Tanah Abang ke Bintaro, ke Buaran, Lenteng Agung. Sedang untuk warga sekitar Jakarta, para penglaju, tarif baru ini menguntungkan bagi warga kawasan Tangerang, Serpong, Depok, namun rugi sedikit bagi mereka yang tinggal di Bekasi. Tetapi itupun sekitar Rp 1.000 saja. Namun akan lebih menguntungkan karena ada tambahan perjalanan, dan juga tambahan waktu kereta terakhir. Ke Bekasi sekitar pukul 23.00 seperti ke Tangerang, sedang ke Serpong 23.30 dari Tanah Abang.

Kereta komuter di kota internasional umumnya memang beroperasi sampai kira-kira 24.00 karena kebutuhan masyarakatnya yang bekerja ataupun menikmati hiburan sampai tengah malam. Jadi minimal Jakarta sudah mendekati kota metropolitan, karena menyediakan angkutan umum yang murah, cepat, aman, sampai hampir tengah malam.

Kita warga Jabodetabek beruntung, dan tentu saja bersyukur. Entah kapan warga kota Medan, Bandung, Surabaya, Makassar mendapatkan kenikmatan serupa.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru