Friday, December 06, 2019
Home > Gaya Hidup & Kesehatan > Apakah Anda Kecanduan Ponsel?

Apakah Anda Kecanduan Ponsel?

Ilustrasi - Anda kecanduan ponsel?

Kalau Anda merasa telpon selular merusak kesehatan dan hubungan, jawabnya mungkin iya.
Anda mengeceknya di kamar mandi. Mengeceknya saat nonton film, bahkan saat sedang makan malam dengan teman atau keluarga. Tapi Anda tidak merasa kecanduan ponsel—para ahli setuju dengan pendapat Anda.

“Hanya sedikit orang yang bisa digolongkan kecanduan ponsel,” kata Dr David Greenfield, asisten profesor psikiatri klinis di Universitas Conneciticut dan pendiri Pusat Kecandun Internet dan Teknologi.

“Tetapi banyak yang menggunakan ponsel secara berlebihan.” Begitu ditulis Time pekan lalu.
Batas antara berlebihan dan kecanduan amat tipis. Tapi Greenfield mengatakan, Anda bergerak ke arah kecanduan apabila Anda tidak bisa berhenti menggunakan ponsel meski itu merusak hidup Anda. Seperti ketika bekerja atau mengendarai mobil. “Anda tidak berdaya meski tahu itu tidak boleh. Ketidak-mampuan mengontrol itu adalah pertanda dari kecanduan,” katanya.

Dr James Robert, pengajar marketing di Universitas Baylor dan penulis “Too Much of a Good Thing” buku tentang kecanduan ponsel, sepakat dengan definisi Greenfield dan membuat daftar tanda-tanda kecanduan. Bila Anda merasa cemas, mudah marah, dan tidak nyaman bila ponsel tidak dalam jangkauan, itu sudah pertanda gawat. Dan bila Anda tidak bisa lepas lagi dari ponsel, itu tidak bedanya dengan orang yang kecanduan alkohol atau narkoba, katanya.

Jika Anda heran, misalnya apa sih salahnya mengecek Facebook atau ngetweet, riset terbaru mungkin bisa menjadi pertimbangan.

Mungkin Anda sudah tahu kedipan di ponsel bisa mengganggu tidur dan bahwa menghabiskan banyak waktu di media sosial membuat Anda depresi. Tetapi riset lebih luas menunjukkan bahwa akses konstan ke internet bisa saja akan mendawai ulang (rewiring) otak kita dengan cara yang potensial merusak.
Rentang perhatian orang semakin memendek, dan kesiagaan ponsel mengganggu kemampuan fokus kita yang sudah melemah, hasil riset terbaru Universitas Negeri Florida. Contohnya, bila pada saat membaca artikel ini Anda menerima sms atau whattsapp, mengeceknya mungkin hanya perlu satu detik. Tetapi kesiapan pikiran terkait sms—dan memikirkan bagaimana menjawab sms itu nanti—melemahkan kemampuan untuk berkonsentrasi.

Banyak riset menyebut orang yang menghabiskan banyak waktu dengan ponsel terganggu setiap detiik oleh impuls (keinginan) untuk mengecek gawainya, meskipun tidak ada bunyi atau isyarat dari ponsel. Dan sekadar melihat surel sudah cukup membuat Anda stress, begitu temuan studi yang dibuat University of California, Irvine.

Untuk hal-hal seperti di atas dan alasan lainnya, orang yang melakukan studi tentang penggunaan ponsel menyimpulkan kita sudah keliwat batas, jadi bukan lagi kita yang menggunakan ponsel tetapi ponsel yang menggunakan kita.

Dengan menyebut internet sebagai “mesin jackpot terbesar di dunia”, Greenfield menyatakan, fakta bahwa kita tidak tahu akan menemukan apa saat mengecek emal atau situs media sosial favorit, menghasilkan kesenangan dan antisipasi. Gejala ini membuat ledakan kecil kimiawi kesenangan di otak kita, yang mendorong kita makin terus menggunakan ponsel.

“Tidak tahu apa yang ditemukan saat berselancang menciptakan kecanduan dan membuat kita terus melakukannya,” katanya. “sesuatu yang baik bisa datang setiap saat.”

Terus bagaimana? Menurut Robert ada beberapa cara untuk mengurangi kecanduan ini.
Yang pertama adalah mulailah buat prioritas dan pastikan hanya berselancar ke satu-dua-tiga hal yang terpenting sesuai prioritas. Yang lain, singkirkan. Intinya, harus berani membuat pilihan.

Yang kedua, kurangi pemakaian. Kalau biasanya 2 jam membuka Facebook, kurangi menjadi separuhnya. Selain itu, matikan semua notifikasi yang tidak penting, tak perlu setiap email masuk atau Anda dikait teman di Facebook, ponsel Anda bergetar atau kedip-kedip.

Roberts dan Greefield mengusulkan agar Anda membuat jam bebas ponsel. Misalnya saja waktu berolahraga pagi, waktu makan malam, atau saat yang perlu ketenangan. Kamar tidur termasuk yang harus bebas ponsel. “Beli jam untuk alarm ketimbang menggunakan ponsel,” kata Greenfield.

“Terkadang, diam itu baik,” tambahnya. Otak kita sesekali tidak terganggu bunyi-bunyian mengganggu yang keluar dari ponsel. (Hendry Ch Bangun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru