Monday, August 03, 2020
Home > Suara Pembaca > Antara Analisa dan Pilihan ganda

Antara Analisa dan Pilihan ganda

 

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) Ini tidak ada hubungannya dengan Presiden Jokowi memilih Badrodin Haiiti, dan bukan Budhi Gunawan menjkadi Kapolri. Meski masalahnya sama  yakni memilih diantara pilihan ganda.

Beberapa waktu lalu  di wall fb berseliweran foto PR anak kelas 2 SD yg diprotes kakaknya, seorang mahasiswa teknik. Walaupun kabarnya, pada akhirnya si kakak meminta maaf pd guru si adik.
Peristiwa itu mengingatkan aku pada kebodohan diri ini. Bodoh dan sok tau, tepatnya. Astaghfirullah…beberapa tahun lalu aku juga pernah berdebat dengan mendiang mama rahimahallah tentang konsep matematika ini. Mama yg seorang guru dan pecinta matematika, mengartikan bahwa 3×4=4+4+4, bukan 3+3+3+3. Aku yang waktu SMA masuk jurusan fisika karena terpaksa dan sebel banget dapat matpel matematika 8 jam perminggu, ngotot bahwa sama aja, karena hasilnya sama2 12. Apa bedanya 3×4 dengan 4×3?, cma masalah peletakan aja., iya toh?

Eh ndilalah dapat suami guru dan pecinta matematika juga. Memang, alhamdulillah nya, mama jadi sayang banget sama menantunya itu. Hmm ga ada hubungannya sih . Nah dari suami ini aku dapat pencerahan tentang penting nya kekuatan konsep dalam matematika. Emang keliatannya sepele, tapi jangan disepelekan juga.

 Untuk gampangnya, coba kalau dalam resep obat, 3×1 diartikan apa?
1 tablet untuk 3 kali makan kan? Coba kalau sipasien mengartikan tdk ada bedanya antara 3×1 dengan 1×3. Yang ada, si pasien makan 3 tablet dalam 1 tenggak. Semaput, semaput deh dia.
Konsep perkalian tidak sama dengan sifat perkalian, katanya. Sifat antara perkalian 3×4 sama dengan 4×3, yaitu sama-sama bernilai 12. Tapi akan berbeda secara konsep. seperti yg saya ilustrasikan di atas.

Suami juga bercerita tentang mantan rektor IPB, yg cukup terkenal waktu itu, Pak Andi Hakim Nasution. Beliau terkenal sebagai dosen yg sangat concern terhadap kekuatan konsep. Menurut beliau, senjelimet apapun soal di utak atik, bila murid memiliki konsep kuat, akan mudah penyelesaiannya.

 Bila ada siswanya memiliki jawaban berbeda, beliau tidak langsung menyalahkan. Melainkan dilihat dulu jalannya, konsepnya. Itu sebabnya beliau tidak senang dengan soal matematika berpilihan ganda, jadi bentuk soal di sekolah menengah. Ujug ujug ada pilihan hasil, A, B, C dan D. Tidak peduli konsepnya betul atau salah, yg penting hasilnya betul.

Soal pilihan ganda akan membuat murid pintar memilih, tapi tidak pintar menganalisa. Dan corat coret di tengah malam ini ditutup dengan cerita kutipan dari beliau.

‘Seorang ahli teknik jebolan pilihan ganda, ketika diminta untuk membangun jembatan, dia akan berkata pada asistennya, “bawakan saya 3 rancangan jembatan, akan saya pilih salah satunya”.’

Lantas apa hubungannya dengan Presiden Jokowi. Pertanyaannya, apakah pilihan kepada Bdrodin itu dilakukan dengan konsep pilihan ganda, ataukah dengan analisa. Silakan menjawab sendiri. Nina Alfa Rizkana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru