Friday, November 22, 2019
Home > Berita > Angka Perceraian Masih Tinggi Karena Menikah Seperti Terjun Bebas

Angka Perceraian Masih Tinggi Karena Menikah Seperti Terjun Bebas

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Kementerian Agama memberikan layanan bimbingan perkawinan (bimwin) kepada 149 ribu pasang pengantin di seluruh Indonesia, selama tahun 2017. Namun pasangan yang mendapatkan bimwin ini masih jauh dari jumlah sekitar 2 juta pasangan menikah tiap tahunnya.

“Jumlah pasangan yang mendapatkan bimwin ini, masih jauh dari jumlah peristiwa nikah yang terjadi. Peristiwa nikah tahun 2017 itu 1,9 juta lebih,” kata  Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, di hadapan 60 jurnalis peserta  Pelatihan Indepth Reporting Kebimasislaman Media Online, di Jakarta, Rabu (14/03), seperti dilaporkan website Kemenag, https://kemenag.go.id.

Salah satu penyebab tingkat perceraian itu, menurut Muhammadiyah adalah minimnya pengetahuan serta kemampuan pasangan mewujudkan keluarga yang  sakinah mawadah wa rahmah. “Banyak yang menikah, belum ada bekal (ilmu) apa-apa. Seperti terjun bebas saja,” ujarnya.

“Yang lebih parah lagi, apabila terjadi masalah di biduk rumah tangganya, mereka tidak mampu mempertahankan,” lanjut Muhammadiyah.

Bimwin menurut Muhammadiyah merupakan upaya Kementerian Agama mengurangi angka perceraian sekaligus langkah untuk memperkuat ketahanan nasional. “Sejak dulu sebenarnya sudah ada, dengan nama suscatin (Kursus Calon Pengantin). Tapi setelah dievaluasi capaiannya masih jauh dari yang diinginkan,” jelasnya.

Data tahun 2014 menunjukan angka perceraian di Indonesia mencapai 344.237. Angka tersebut naik menjadi 365.633 pada tahun 2016. Ironisnya, kata Muhammadiyah Amin, perceraian banyak dialami pasangan yang belum genap lima tahun usia pernikahan. “Dan 70% dimulai dengan gugat cerai (permintaan istri),” lanjutnya.

Di tahun 2018 ini, Ditjen Bimas Islam akan kembali mengintensifkan kegiatan bimwin. Meski belum menjadi kewajiban bagi pasangan yang akan menikah, tapi harus dilaksanakan. Belum diwajibkan karena terkait anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kegiatan Bimwin.

“Kalau tiap tahun ada 2 juta pasangan menikah dengan anggaran bimwin 400 ribu, berarti membutuhkan dana 800 milyar. Sementara alokasi yang ada sekarang baru 59 milyar,” tuturnya. “Bila nanti anggaran Bimwin sudah mencukupi, kita akan wajibkan.  Tidak boleh dinikahkan oleh KUA, tanpa sertifikat lulus,”tandasnya.***(edy t)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru