Monday, June 17, 2019
Home > Cerita > AKHIR KEHIDUPAN, Hati yang Membatu, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

AKHIR KEHIDUPAN, Hati yang Membatu, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

Ilustrasi. (ist)

Mata masih terasa berat
menggeliat, meregang, menggelayut
ingin rasanya menahan jarum jam
namun waktu tak mau berhenti
detik, menit, jam pun berlalu
namun kemalasan masih dominan
inikah pekerjaan iblis, setan

semua itu harus dilawan
demikian kata orang-orang bijak
namun tak semudah mengucapkan
tak semudah membalik telapak tangan
entah karena hati lagi dingin
mungkin membeku, menolak saran
karena usia sudah semakin tua
mungkin pertanda akhir kehidupan

apakah hati ini telah membatu
tak lagi mempan disirami nasehat
tidak mempan diguyur siraman rohani
hanya Allah yang tahu
semoga Allah pula yang mesucikan
mengembalikan hati ini pada jalanNya
jalan lurus menuju kebenaran

semoga kembali pada kesucian
melawan godaan iblis
melawan segala ajakan setan
kembali pada jalan Tuhan
menuju kehidupan akhir, damai
semoga diperkenankan
Aaamiiin ya Allah

*Surabaya 090219

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru