Sunday, September 22, 2019
Home > Berita > 9,1 Juta Penduduk Indonesia Menderita Diabetes

9,1 Juta Penduduk Indonesia Menderita Diabetes

Penderita diabetes tak boleh lupa sarapan. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Medan) – Lonceng darurat diabetes semakin mengkhawatirkan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan data teranyar yakni jumlah penderita Diabetes Mellitus (DM) saat ini naik menjadi 422 juta jiwa.

Khusus di Indonesia, berdasaran Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI, terakhir tahun 2013 sudah mencapai angka 9,1 juta jiwa. Dan jumlah ini terus bertambah, diprediksi pada tahun 2030 akan mencapai 21,3 juta jiwa.

“Hasil penelitian ini mengindikasikan saat ini 1 dari 10 orang warga
mengidap Diabetes Mellitus,” kata Staf Divisi Endokrin Metabolik RSUP H Adam Malik, dr Santi Syafril, SpPDKEMD, FINASIM, dalam seminar kesehatan “Perananan Complementary and Alternative Medicine Dalam Manajemen Pengobatan Diabetes Mellitus Tipe 2” di Hotel Adi Mulia, Medan, kemarin.

Dengan jumlah tersebut, posisi Indonesia menurut dr Santi saat ini
berada di urutan ke 7 negara dengan jumlah penduduk tertinggi mengidap
DM di dunia. Ironisnya lagi menurutnya, 90 % pasen kencing manis
terdiagnosa DM tipe 2. Dan dari jumlah tersebut sebagian besar tidak menyadari jika mereka mengidap DM.

“Ketidaktahuan ini yang berisiko membuat komplikasi,” ujarnya.
Tingginya jumlah penderita DM di Indonesia membuat secara ekonomis biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan juga sangat tinggi.

Direktur Utama PT HArvest Gorontalo Indonesia, M Yamin Lahay
mengungkapan pihaknya mencatat total ongkos ekonomi yang harus ditanggung pemerintah sejak 2006 hingga 2015 lalu mencapai Rp 800 triliun.

“Data dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga mencatat pasien DM enguasai 30 % klaim atau sekitar Rp 20 triliun,”katanya.
Data JKN juga mencatat pasien DM menguasai 30 persen dari seluruh klaim atau mencapai Rp 20 Triliun pada tahun 2016,” katanya.

“Jadi, ada jenis obat yang dapat digunakan untuk DM tipe 2, yaitu, untuk mengendalikan kadar gula darah, juga mencakup terapi non obat dan terapi obat,” ujarnya. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru