Sunday, November 17, 2019
Home > Berita > 2 Pekan Hutan di Muba Sumsel Terbakar, Padam Diguyur Hujan Sehari

2 Pekan Hutan di Muba Sumsel Terbakar, Padam Diguyur Hujan Sehari

Kebakaran hutan di Sumatera Selatan. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Muba) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang terjadi sejak Selasa (13/8) akhirnya padam setelah turun hujan pada Selasa (27/8) petang. Total terdapat 931,762 hektare lahan yang hangus di kabupaten tersebut.

Kabid Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori berujar hujan berintensitas sedang yang mengguyuri kawasan tersebut membuat api sepenuhnya padam dan tidak lagi meluas. Saat ini 400 personel tim pemadam darat masih bersiaga di lokasi tersebut untuk proses pembasahan dan mencegah terjadinya kembali kebakaran.

“Petugas yang di sana masih siaga, belum ada perintah menarik pasukan. Karena ini sifatnya situasional, petugas disiagakan untuk mencegah terjadinya kebakaran susulan di lokasi yang sama,” ujar Ansori, Rabu (28/8).

Saat ini, permintaan teknik modifikasi cuaca (TMC) pun sudah disetujui oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun sudah meminta difasilitasi untuk melakukan persiapan TMC di Sumatra Selatan dan berkoordinasi dengan Subsatgas Udara Karhutla Sumsel.

“Untuk peralatannya belum dikirim, seperti garam khusus dan pesawat Cassa-nya masih belum ada di sini. Sekarang masih persiapan. Nantinya kalau sudah siap semua, tim BPPT akan berkoordinasi dengan BMKG untuk rapat harian pagi, apakah ada awan potensial yang bisa ditaburi garam untuk memancing terjadi hujan atau tidak,” ujar Ansori.

Sementara itu, Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Metrologi BMKG SMB II Palembang Bambang Beny Setiaji berujar, pada citra radar cuaca pada Selasa (27/8) teramati adanya barisan awan hujan cumulonimbus dengan rentang sepanjang 100-200 Km yang memasuki wilayah Sumsel yang disebut fenomena sistem konvektif skala meso.

Potensi hujan disebabkan seiring melemah hingga hilangnya badai tropis Bailu dan transisi ke badai tropis selanjutnya yang akan menyebabkan adanya sirkulasi di Selat Karimata dan perlambatan massa udara di wilayah Sumsel yang cukup uap air untuk pertumbuhan awan hujan.

Kemudian timbul indikasi awan-awan hujan yang berbaris akan membentuk seperti busur panah dan disertai angin kencang. Angin kencang ini disebabkan perbedaan suhu dan tekanan udara yang signifikan antara daerah yang telah terpapar dan yang akan terpapar hujan.

“Seiring aktifnya badai tropis Podul pada Selasa (27/8), beberapa hari ke depan kondisi Sumsel akan kembali keadaan normal musim kemarau dengan kondisi lapisan udara atas yang kering dan berangin kencang yang akan memperlambat pertumbuhan awan,” ujar dia.

Badai Tropis Podul diperkirakan akan berakhir 31 Agustus-1 September 2019. BMKG mengimbau untuk mewaspadai adanya kabut asap (smog) pada Kamis (29/8) hinnga Sabtu (31/8) mendatang karena setelah beberapa wilayah Sumsel terpapar hujan kondisi pada malam harinya cerah akan berpotensi adanya Kabut radias yang bercampur asap dari karhutla pada pagi hari.

“Umumnya smog terjadi pada pagi hari pukul 04.00-07.00 dengan jarak pandang kurang dari 1 kilometer yang mengganggu transportasi terutama penerbangan,” ujar dia. (A/C/d)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru