Sunday, July 21, 2019
Home > Cerita > Reuni di Hari Raya Cerpen Yayat R Ruhiyat

Reuni di Hari Raya Cerpen Yayat R Ruhiyat

Ilustrasi - Mudik Lebaran.

Masih terdengar kumandang takbir menggema di mesjid dan surau. Nafasku terasa berat oleh rasa haru dan syukur dan aku merasa semakin dekat dengan Sang Pencipta. Seakan aku berhadapan  langsung denganNya. Tak terasa ada tetesan air bening yang keluar dari sudut mata.

Perjalanan terhambat oleh kemacetan  luar biasa. Jalanan menuju ke arah kampung halaman nyaris tak ada yang kosong, penuh sesak oleh kendaraan. Berkali kali telpon selulerku berdering. Ibuku seakan sudah tidak tahan lagi ingin memelukku. Berkali kali pula aku menjawabnya dengan lembut, bahwa aku selamat dan sudah dekat hanya terhalang kemacetan saja.
Saat ku masuk ke kampung halaman yang telah menyimpan sekelumit rahasiah hidupku saat kecil hingga SMA, nampak ada banyak perubahan yang sangat signifikan, sekarang banyak bangunan bangunan megah berdiri.

Padahal ketika aku masih kecil, sepanjang jalan  itu penuh dengan pepohonan rimbun, juga sawah sawah yang subur. Dan di sawah sawah  itu aku dan teman teman kecil bermain sembari memancing ikan belut.
Saat mataku melewati sebuah rumah kuno, aku berhenti sejenak. Lama kupandangi rumah yang kayaknya sudah lama ditinggalkan penghuninya.Selintas bayanganku kembali ke masa kecil. Aku dan teman teman kecil sering bermain di halaman  rumah  itu yang memang agak luas.

***

Kami bermain galah, atau sepak bola dengan menggunakan jeruk bali. Aku sangat bahagia manakala Yatti teman SD ku yang punya rumah itu datang ke luar dan ikut melihat permainan kami.
Namun sayang ketika keluar SD kami berpisah. Ayahku seorang serdadu dipindahkan tugasnya ke wilayah lain, begitu juga dia. Bapaknya seorang pejabat polisi kala itu, dipindahkan ke kota lain pula. Dan sejak saat itu kami tidak pernah lagi melihat sosok gadis yang senantiasa selu ada di hatiku.
Sesampainya di rumah, ibu dan sodara sodaraku sudah pada berdiri di luar. Mereka menyambutku penuh kasih dan haru.   “Syukurlah Kau sudah selamat, anak ku.” dia memeluk ku penuh kasih.
Aku masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Ibu ku yang usia nya memang sudah tua.

“Hampir satu tahun penuh aku tidak pulang.” kataku.
“Satu tahun kurang satu bulan tepatnya.” Ibu ku menyela.’Waktu itu kau pulang terahir setelah hari raya, dan sekarang pulang mau hari raya.”
“Iya bu, maafkan aku.” kucium kedua pipinya. Sejenak aku berhenti di ruangan depan. Di situ terpampang poto keluarga semua. Sejenak aku menatap poto bapak ku. Dia nampak tersenyum dan
bangga. Kuambil bingkai poto itu, kuusap dan kupeluk. Kembali mata ku berbinar binar, dan tanpa disadari tetesan air bening membasahi pipi ku.
“Ayah mu pasti bangga punya anak seperti mu.” ibuku memeluk. Aku tersenyum, lalu kucium foto ayah dan kusimpanya lagi. Sementara di  luar gemuruh takbir mengagungkan kebesaran Allah
SWT. Selain di surau dan masjid, takbir keliling juga menggunakan mobil bak terbuka.
Di meja makan yang terbuat dari kayu Jati kuno, makanan yang sengaja dimasak ibu sudah memenuhi meja makan tersebut. Hampir semua jenis makanan yang ada di atas meja makan itu, merupakan makanan kegemaran ku. Lalu ibu menyuruh ku untuk segera sembahyang Isya dulu sebelum mencicipi semua makanan yang ada.

Ketika Subuh mau pergi ke mesjid. Aku terbelalak sejenak, kulihat rumah kuno yang dulu milik teman SD ku Yatti, nampak seperti berpenghuni. Lampu lampu rumahnya menyala, begitu pula lampu luar
rumahnya menyala.Aku sejenak berhenti dan terus memperhatikan rumah kuno tersebut.Namun aku tak bisa lama berdiri di situ, ketika suara adzan Subuh menggema. Akupun bergegas menuju mesjid dimana waktu kecil aku sering belajar solat dan membaca Al Quran.

Setelah usai wirid dan bersalaman, aku bergegas meninggalkan mesjid. Aku ingin segera mendapat kabar, siapa yang datang di rumah kuno itu ? Orang lain atau memang dia Yatti teman se SD ku dulu ?
Namun sayang aku tidak bisa mendapatkan kabar secepatnya. Karena saat aku pulang dari mesjid, tak kulihat seorang pun yang ada di sekitar rumah itu. Namun dua mobil mewah nampak terparkir di halaman rumah itu. Aku pun bergegas menuju rumah mempersiapkan Salat Idul Fitri.

Di rumah aku tak berani untuk bertanya pada Ibu yang tengah bersiap siap untuk pergi ke Lapangan melaksanakan Salat Iedul Fitri. Aku hanya mereguk segelas kopi yang masih hangat yang sudah tersedia di atas meja. Pasti itu buatan ibu.

Lalu kubuka rokok yang masih baru dan kubakar sebatang menemani segelas kopi. Namun fikiran ku tetap melayang, memikirkan orang yang adadi rumah Kuno itu. Mungkinkah dia Yatti dan keluarganya ?
Lalu aku berfikir pula, apakah mungkin dia datang bersama suami dan anaknya ? Jangan jangan dia sudah menikah dan sudah diberi keluarga ?

Aku jadi tak yakin kalaupun memang itu Yatti yang datang bisa memberi obat rindu ku.
“Ayo sarapan dulu sebelum kita berangkat ke Lapang.” suara ibu membuyarkan semua lamunanku.
“Iya bu.” jawab ku pendek.

Orang orang sudah pada memenuhi jalan menuju ke Lapangan. Dan aku bersama ibu serta sodara sodaraku ikut bergabung bersama rombongan yang sudah memenuhi jalan menuju Lapangan untuk melaksanakan Salat Iedul Fitri.Tepat di depan rumah Kuno itu, mata ku terbelalak menatapnya, namun aku masih belum melihat orang yang ada di dalam rumah itu. Namun ibu mengatakan, bahwa tadi malam keluarga itu datang.
“Sejak keluar SD aku dan Yatti tidak pernah bertemu yah bu ?” kata ku tak sadar.
“Iya memang benar, tapi pernah ibu bertemu dia beberapa kali.”
“Dimana ibu bertemu ?” aku kaget.
“Dia pernah datang kesini, bahkan selalu menanyakan kamu.” Ibu tersenyum.
Ak bertambah tak keruan. Apa benar Yatti pernah ketemu Ibu dan menanyakanku ? Ada apa ?
Tak terasa kami sudah sampai di lapangan tempat Salat Iedul Fitri. Aku menuju tempat laki laki,dan tanpa diduga aku bertemu dan duduk di sebelah Dadang sahabat SD ku dulu. Kami terlibat pembicaraan yang memang sangat kurindukan.Dadang mengatakan kalau dia sudah menikah dan sudah dikaruniai seorang putra yang baru berumur kurang dari satu tahun. Selain menceritakan dirinya, Dadang jga sempat menyingggung kedatangan Yatti tadi malam.
“Kamu ketemu Dang dengan Yatti ?”
“Iya aku sempat bertemu tadi malam sebentar, dia menanyakanmu.”
Kami terlibat pembicaraan yang memang sangat berarti bagi hidupku. Dan manakal  Khotib sudah selesai membacakan dakwahnya, kami pun pada meninggalkan lapangan sambil bersalaman.

Saat aku pulang dari lapangan sehabis melaksanakan Salat Iedul Fitri, aku berhenti sejenak di depan rumah kuno yang berarsitek Belanda.Kulihat ada beberapa orang yang masuk ke rumah itu, namun
orang yang senantiasa terbayang dalam ingatan ini tak kulihat. Sedikit kecewa ketika Ibu menyapaku dari belakang.

“Nunggu siapa ?” tanya Ibu.
“Sengaja nunggu Ibu.” jawabku.

Kami menuju rumah, namun di sepanjang jalan yang tidak begitu jauh jaraknya, ingatan ku terus digeluti oleh perempuan yang dulu sama sama satu kelas waktu di SD.Kenangan masa lalu saat kami masih kecil
terbayang tak henti henti. Apalagi ketika kami bermain bersama di halaman rumah nya sambil kejar kejaran. Oh….semuanya lengkap terbayang. Setelah kami bersilaturahmi dengan keluarga dan handai   taulan yang deket, ingin rasanya aku mendatangi rumah itu. Namun lagi lagi Ibu mengajakku segera ke makam ayah.
“Ayo buruan, kasihan bapak menunggu kita disana.” ajak Ibu.
Ahirnya aku dan Ibu bersama sodara yang lain berangkat menuju tempat pemakaman Bapak. Di situ sudah banyak orang yang berziarah. Lalu kami pun segera menuju tempat pemakaman bapak. Kami semua berdoa dan menyiramkan air serta menabur bunga.
Namun manakala aku beranjak mau pulang, kulihat ada rombongan baru yang datang.Dadaku terasa tak keruan ketika perempuan yang sekian lama senantiasa membayangi hidup ini ada di hadapan mata.
“Bu itu Yatti teman sekolah ku waktu di SD kan ?” aku bertanya pada Ibu untuk meyakinkanya.
“Oh…iya. Itu neng Yatti bersama ibu dan adik adiknya.” Ketika sudah berhadapan, aku dan dia saling berpandangan. Lama sekali, seakan akan tak percaya.
“Kamu Teddi yah ?” dia mendahului nyapa sambil mengulurkan tanganya.
“Iya.” jawabku sambil menjabat tanganya.
Kami berbincang lama dan dia pun menyuruh aku untuk datang ke rumahnya setelah pulang dari tempat pemakaman.

Entah perasaan apa yang ada dalam dada ni ketika aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Lalu kuucapkan salam. Dan tak lama kudengar balasan salam  dari dalam rumah. Ternyata yang datang Yatti.
Dia menyambut ku penuh mesra, bahkan kami terlibat pembicaraan yang lebih jauh termasuk masa depan kami berdua. Dan ternyata perempuan yang senantiasa selalu membayangi setiap saat itu masih menungguku, dan dia tidak pernah mau menerima lamaran lelaki lain sebelum mendengar aku menjadi milik perempuan lain.
Tuhan.. ternyata Hari Raya Iedul Fitri ini, membawakan kebahagiaan yang begitu berarti dalam hidup ini.  ***

Garut, 12 Maret 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru