Tuesday, November 19, 2019
Home > Berita > 13 Lagi Terduga Teroris Mujahidin Indonesia Timur di Poso Masih Berkeliaran

13 Lagi Terduga Teroris Mujahidin Indonesia Timur di Poso Masih Berkeliaran

DPO Kelompok MIT Poso, Ali Ahmad alias Ali Kalora (Pimpinan MIT Poso) dan Basir alias Romzi (BIMA NTB). (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Poso) – Operasi Tinombala atau operasi pengejaran terhadap sisa kelompok terorisme Muhajidin Indonesia Timur (MIT) di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, yang kini dipimpin Ali Kalora, terus ditingkatkan Polri.

Kelompok MIT POSO tercatat 15 orang hingga akhir Februari 2019. Kemudian, Satgas Tinombala atau satgas khusus yang melakukan pengejaran kepada kelompok MIT Poso berhasil melumpuhkan dua kelompok MIT Poso setelah terjadi aksi baku tembak, pada Minggu (3/3).

Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Lukman Wahyu Haryanto, membenarkan dua orang sisa kelompok MIT Poso berhasil dilumpuhkan pasukan Satgas Tinombala di pegunungan Padopi Dusun Maros, Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara (PPU), Kabupaten Poso, pada Minggu (3/3) petang.

“Pastinya, kita akan tetap mengejar untuk menangkap mereka (DPO) yang ada di atas gunung,” ujar Lukman di Poso, Senin (4/3) petang.

Menurut Kapolda Lukman Wahyu, kontak tembak itu berawal dari masuknya informasi masyarakat ke Pos Satgas sekitar pukul 09.30 WITA, yang mengaku melihat sekitar 5 orang DPO MIT sedang beristirahat di sebuah pondok perkebunan warga.

Akibat kontak tembak tersebut, satu DPO atas nama Basir alias Romzi asal Bima NTB tewas, dan satu DPO lainnya atas nama Adtya alias Idad menyerahkan diri dan ditangkap hidup-hidup.

Dalam catatan kepolisian, Romzi merupakan anggota MIT Poso senior yang bergabung masuk ke kelompok teroris Poso sekitar 6-7 tahun lalu. Romzi ada di MIT Poso sejak mendiang Santoso alias Abu Wardah masih hidup, dan keduanya gabung berada di hutan. “Untuk Adtya alias Idad masih baru. Karena baru bergabung di kelompok MIT Poso Maret 2018,” kata Lukman Wahyu.

Kapolda menambahkan, dengan tewasnya Romzi dan tertangkapnya Idad, maka sisa jumlah DPO MIT Poso yang bersembunyi dan sedang terus diburu Satgas Tinombala di hutan Poso, Parigi Moutong, dan sekitarnya ada sekitar 13 orang. Termasuk Ali Kalora yang saat ini menjadi pimpinan MIT Poso setelah pimpinan mereka, sebelumnya Santoso tewas dilumpuhkan Tim Satgas Tinombala.

Data PaluPoso, sepeninggalnya pimpinan MIT Poso sebelumnya yakni Santoso, anggota kelompok MIT yang bertahan di hutan Poso sampai dengan akhir 2018 tersisa tujuh orang yakni, Ahmad Ali alias Ali Kalora yang disebut-sebut kini memimpin kelompok MIT. Kemudian Basri alias Romzi Katar alias Farel alias Anas; Askar alias Jaid alias Pak Guru; Nae alias Galuh alias Muhlas; Abu Alim alias Ambo; Moh Faisal alias Namnung.

Beberapa bulan kemudian Polres Poso mempublikasikan kelompok MIT kembali bertambah menjadi 10 orang, yakni Alhaji Kaliki alias Ibrohim DPO asal Ambon, Rajif Gandi Sabban alias Rajes DPO Ambon, dan Adtya alias Kuasa DPO Ambon.

Pascapenembakan dua polisi yang hendak mengevakuasi korban pembunuhan sadis dengan cara dimutilasi di Desa Salubanga, Sausu, Kabupaten Parigi Moutong yang diduga merupakan kelompok MIT. Polda Sulteng kembali merilis kelompok MIT terus bertambah menjadi 14 orang dengan DPO baru dari Ambon, Banten, dan Makassar.

Sebelumnya melalui Humas Polda Sulteng yang saat itu dijabat AKBP Hery Murwono Rabu 9 Januari 2019 dalam keterangan persnya di Polda Sulteng menyebutkan, kelompok MIT Poso ada tambahan kelompok baru yang merupakan DPO dari luar Sulteng yakni DPO Ambon, DPO Banten, dan DPO Makassar.

DPO baru lanjut Hery, di antaranya Alhaji Kaliki alias Ibrohim DPO asal Ambon; Rajif Gandi Sabban alias Rajes DPO Ambon; Adtya alias Kuasa DPO Ambon; Alvin alias Adam DPO Banten; Jaka Ramadhan alias Ikrima DPO Banten; Alqindi Mutaqien alias Muaz DPO Banten; dan Andi Muhammd alias Abdulah DPO Makassar.

Kemudian pada operasi pengejaran lanjutan kelompok MIT Poso, tim Satgas Tinombala selang beberapa hari pascapenyerangan dua anggota Polri yang hendak mengevakuasi seorang pria korban mutilasi di Desa Salumbanga, Kabupaten Parigi Moutong, yang diduga kuat juga korban kekerasan kelompok MIT Poso, 31 Desember 2018.

Tim gabungan TNI-Polri sekitar 1.000 pasukan diturunkan. Polri menurunkan BKO dari Brimob Kelapa dua dan TNI menurunkan tim elitnya dari beberapa kesatuan, di antaranya Kopassus dan Rider.

Saat ini, kelompok MIT Poso tersisa 13 orang yang terus diburu tim Satgas Tinombala.

Berdasarkan catatan yang dihimpun dari beberapa sumber, Mujahidin Indonesia Timur diperkirakan terbentuk pada akhir 2012 atau awal 2013, kelompok tersebut didirikan oleh Santoso atau Abu Wardah di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

MIT berhasil merekrut sejumlah pengikutnya bahkan sering melakukan pelatihan militer di pegunungan Poso. Sejumlah aksi teror dan serangan terhadap aparat kepolisian kerap disebut dan diduga didalangi kelompok ini.

Selain mendirikan MIT, Santoso juga merupakan pemimpin MIT. Pergerakannya di kelompok radikal dimulai dengan bergabungnya Santoso dengan kelompok Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) di wilayah Sulawesi Tengah. Bekal di JAT tersebut yang dijadikan modal bagi Santoso untuk mendirikan MIT.

Selanjutnya pada 2016 melalui sebuah rekaman video, kelompok MIT menyatakan berbaiat kepada Negara Islam Irak Suriah atau ISIS.

Setelah diburu sejak 2012, Kepolisian RI memastikan jika salah satu korban yang tewas dalam baku tembak operasi Tinombala pada Juli 2016 adalah Santoso, pimpinan MIT Poso. Santoso tewas setelah pergerakan MIT dipersempit melalui tim Satgas Operasi Tinombala dan beberapa anggota MIT juga dilumpuhkan bahkan ada menyerahkan diri. (K/d)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru